Tak ingin sekadar berjualan batik, Nur Rahmat kembangkan tempat usahanya di Desa Ringintunggal, Kecamatan Gayam menjadi destinasi wisata edukasi batik Bojonegoro sejak 2018.
Jessy Nora Sandy dan Lulu Citra Salsabila, Bojonegoro
WISATA Edukasi Batik Bojonegoro kini menjadi destinasi pembelajaran budaya yang diminati kalangan pelajar dari berbagai daerah.
Tempat wisata yang berdiri sejak 2017 ini menawarkan pengalaman langsung membuat batik khas Bojonegoro dengan metode yang aman dan edukatif.
Nur Rahmat, pemilik Wisata Edukasi Batik Bojonegoro, menceritakan perjalanan usahanya yang bermula dari event lomba desain motif di Kecamatan Gayam yang difasilitasi ExxonMobil pada 2017.
Baca Juga: Mengenal Kembali Berbagai Motif Batik Bojonegoro: Terinspirasi dari Sejarah, Kesenian, Hingga Alam
"Kami kali pertama memproduksi batik tahun 2017, lalu mengikuti Festival Banyu Urip. Ternyata, batik kami laku, dan dari situlah kami termotivasi untuk terus berkembang," kenangnya.
Pada 2018, wisata ini mendapat bantuan renovasi dari ExxonMobil dan kemudian resmi dibuka untuk umum.
Kini, selain menjadi tempat wisata edukasi, usaha batik ini juga melayani penjualan online melalui platform Shopee dan WhatsApp di bawah nama Kristal Jaya Batik, memperluas jangkauan pasar hingga ke seluruh Indonesia.
Wisata Edukasi Batik Bojonegoro menyediakan paket pembelajaran selama dua jam yang mencakup pemberian materi tentang sejarah dan filosofi batik, praktik membuat batik menggunakan teknik cap, mewarnai, hingga proses pengeringan.
Seluruh kegiatan dipandu langsung oleh instruktur berpengalaman. Uswatun Kasanah, pengelola wisata, menjelaskan bahwa pemilihan teknik cap dalam proses pembelajaran bertujuan menjaga keamanan peserta, khususnya anak-anak.
Baca Juga: Batik Obor Sewu Khas Masyarakat Samin Bojonegoro Melenggang ke Gedung Negara Grahadi Surabaya
"Kami menggunakan teknik cap agar peserta terhindar dari risiko terkena lelehan malam panas yang biasa digunakan dalam teknik canting tradisional," ujarnya.
Dengan biaya Rp 15.000 per peserta, pengunjung akan mendapatkan fasilitas lengkap berupa media membatik, pewarna, kuas, serta souvenir kotak pensil sebagai kenang-kenangan.
Peserta dengan hasil karya terbaik juga akan mendapatkan sertifikat penghargaan dari pengelola.
Batik Bojonegoro memiliki karakteristik yang membedakannya dari batik daerah lain, yakni penggunaan pewarna remasol yang menghasilkan warna cerah dan mencolok.
Kombinasi warna yang berani dan motif khas Bojonegoro menjadi daya tarik tersendiri dalam memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi muda.
Baca Juga: Proker Sekolah Alam KKNTK-21 Unigoro Melatih Siswa SDN 1 Klino Membuat Batik Lewat Ngalam Ecoprint
"Kami fokus mengenalkan batik Bojonegoro. Meskipun pengunjung dari luar daerah, motif yang dipraktikkan tetap menggunakan motif khas Bojonegoro," tegas Uswatun.
Wisata ini ramai dikunjungi siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Madrasah Ibtidaiyah (MI), hingga Madrasah Aliyah (MA).
Antusiasme tidak hanya datang dari Bojonegoro, melainkan juga dari luar kota bahkan luar provinsi.
Salah satu kunjungan terbaru datang dari TK KB Al-Munawar yang membawa 55 siswa untuk belajar membatik.
Kepala Sekolah TK KB Al-Munawar, Leli Setyorini memberikan apresiasi positif terhadap program edukasi yang ditawarkan.
"Wisata ini sangat baik untuk memperkenalkan budaya daerah kepada anak-anak, khususnya keragaman motif batik Bojonegoro yang memiliki nilai filosofis tinggi" katanya.
Wisata Edukasi Batik Bojonegoro dapat menampung minimal 20 hingga maksimal 120 peserta per sesi kunjungan.
Pengelola menyarankan calon pengunjung untuk melakukan konfirmasi dan reservasi terlebih dahulu guna memastikan kesiapan tempat dan kelengkapan peralatan yang dibutuhkan.
Dengan konsep pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, Wisata Edukasi Batik Bojonegoro tidak hanya menjadi sarana rekreasi, tetapi juga media efektif dalam upaya pelestarian warisan budaya lokal kepada generasi penerus bangsa. (*/bgs)