Lebih dari tiga dekade, Warung Pak Dhe Solo di Kecamatan Baureno masih tetap eksis dan layak disebut legendaris. Menu bakso dan mi ayam andalannya selalu habis ratusan porsi setiap harinya.
Lulu Citra Salsabila dan Jessy Nora Sandy, Bojonegoro
SALAH satu rumah makan legendaris di kawasan Baureno ialah Warung Pak Dhe Solo. Rumah makan itu menjadi salah satu destinasi kuliner yang tetap eksis sejak awal berdiri pada 1993.
Berawal dari sebuah gerobak kaki lima sederhana di selatan SDN Baureno, kini warung tersebut berkembang menjadi usaha keluarga yang mampu melayani ratusan porsi setiap harinya.
Didirikan oleh pasangan suami istri, Daliman dan Surati, warung ini awalnya hanya menyediakan menu bakso dengan harga Rp 5.000 per porsi.
Seiring berjalannya waktu, menu yang ditawarkan bertambah, seperti mi ayam, fried chicken, hingga ayam geprek.
Namun, karena antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap bakso dan mi ayam, menu fried chicken dan ayam geprek hanya dilayani melalui pesanan khusus.
Baca Juga: Konsisten Porsi Jumbo Seharga Rp 5.000, Warung Bakso Tempuran Mampu Jual 1.000 Porsi Per Hari
Nama Warung Pak Dhe Solo sendiri memiliki cerita unik. Julukan "Pak Dhe" disematkan oleh para pelanggan kepada Daliman yang ramah melayani, sementara kata "Solo" merujuk pada kota kelahiran beliau, yaitu Kota Solo.
Dari situlah nama yang kini melegenda tersebut terbentuk. Perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Pada 2014, lokasi awal warung terkena penggusuran.
Alhasil, usaha ini dipindahkan ke rumah yang terletak di Jalan Ahmad Yani Baureno. Perpindahan lokasi justru membawa berkah, karena dari sanalah usaha semakin berkembang.
Saat ini, Warung Pak Dhe Solo tidak hanya dikelola Daliman, tetapi sudah diteruskan oleh anak keempatnya, Pradina Maratul Sholekah, di bawah pengawasan sang ayah.
Daliman kini lebih fokus pada produksi, sementara pemasaran ditangani oleh anak-anaknya. Bahkan pada 2023, warung ini resmi membuka cabang baru di Sidomukti, Kepohbaru, yang dikelola oleh Siti Nur Aini, anak pertama Pak Dhe.
Baca Juga: Berburu Cita Rasa Legendaris: 10 Warung Pecel Paling Diburu di Bojonegoro yang Wajib Kamu Coba!
Setiap harinya, warung ini dibantu tiga hingga empat karyawan untuk melayani pelanggan. Bahan baku yang digunakan pun murni, yaitu daging sapi 100 persen tanpa campuran.
Dalam satu hari, Warung Pak Dhe Solo mampu menghabiskan sekitar 10 kilogram daging sapi, setara 300-400 porsi.
Pada hari libur, jumlah porsi meningkat drastis hingga 500-700 porsi. Bahkan, pada momen Lebaran Idulfitri, penjualan bisa mencapai puncaknya dengan konsumsi daging hingga satu kuintal.
Menu andalan warung ini tetap pada bakso dan mi ayam dengan berbagai tambahan topping, seperti usus, babat, ceker, hingga pentol.
Untuk minuman, tersedia pilihan es teh, es jeruk, dan es campur yang menjadi favorit pelanggan. Saat ini, harga bakso sudah menyesuaikan zaman, yakni Rp 10.000 per porsi, sementara mi ayam mulai Rp 8.000 per porsi.
Baca Juga: Warga Turi Memulai Hari dengan Sarapan Murah dan Kopi Nikmat di Warung Mbah Sakinah
Banyak pelanggan mengaku memiliki kenangan tersendiri dengan Warung Pak Dhe Solo. Ari Murniati, 44, warga asal Desa Woro, mengatakan dirinya sudah menjadi langganan sejak masih sekolah menengah atas (SMA).
“Dulu saya sering jajan bakso di sini sepulang sekolah. Rasanya tidak pernah berubah, kuahnya selalu gurih dan dagingnya asli. Sampai sekarang kalau kangen masa remaja, saya pasti mampir ke warung Pak Dhe,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Suparno, 50, pelanggan yang sering datang dari luar kota. “Kalau pulang kampung ke Kepohbaru, saya pasti sempatkan mampir. Bakso Pak Dhe Solo ini rasanya khas, berbeda dengan bakso lain. Ditambah mi ayamnya juga enak, porsinya pas, harganya juga ramah di kantong” tuturnya.
Baca Juga: Nasi Kucing Warung Haji Sukidjan: Penyelamat Anak Kos Bojonegoro di Tanggal Tua
Testimoni pelanggan tersebut membuktikan, bahwa Warung Pak Dhe Solo bukan sekadar tempat makan, melainkan bagian dari perjalanan kuliner dan kenangan masyarakat.
Dengan konsistensi menjaga cita rasa, bahan baku berkualitas, serta pelayanan yang ramah, Warung Pak Dhe Solo berhasil mempertahankan eksistensinya lebih dari tiga dekade. (*/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko