Salah satu putri terbaik kelahiran Blora, Fajar Astuti Hermawati, dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya beberapa waktu lalu. Perempuan yang menyandang gelar profesor itu makin menegaskan, jika Kabupaten Blora mampu melahirkan akademisi-akademisi hebat.
RAHUL OSCARRA DUTA, BLORA
TAK banyak yang mengenal sosok Fajar Astuti Hermawati. Namun, perempuan kelahiran 10 September 1972 tersebut berhasil mengharumkan nama Kabupaten Blora, setelah dikukuhkan sebagai Guru Besar Untag Surabaya.
Menurut penuturan suami Fajar, I Made Kastiawan, keluarga istrinya tinggal di Jalan Serayu, Kelurahan Kedungjenar, Kabupaten Blora. Sejak kecil ayah Fajar berprofesi sebagai guru SD, yang terus mendorong pendidikan anak-anaknya.
Erma, panggilan akrab Fajar di keluarganya, mengenyam pendidikan SD di dua tempat, yakni di SD Jetis 2 kemudian pindah ke SD Kedungjenar saat naik kelas 4 sampai kelas 6.
Kemudian melanjutkan di SMP 1 dan aktif di berbagai berbagai organisasi. Saat mengenyam pendidikan di SMPN 1 Blora itu, Fajar menjadi Sekretaris OSIS serta menjadi Ketua regu pramuka, yakni Tahun 1981 mengikuti Jambore Nasional di Bumi Perkemahan di Cibubur Jakarta.
Menginjak di SMAN 1 Blora, Profesor Fajar terus aktif di organisasi dan kembali menjadi bendahara OSIS . Setamat SMA, dia yang DNA keluarganya sebagian besar dari guru itu, diterima di tiga perguruan tinggi sekaligus. Yakni, STAN, ST Telkom, dan ITS.
Mengawali kariernya sebagai dosen di Untag 1945 Semarang pada Tahun 1997. Sosok yang rendah hati tegas, aktif di publikasi ilmiah, akademisi di masyarakat. Sehingga wajar beberapa penghargaan telah diraihnya.
Di mata suaminya, istrinya adalah sosok pekerja keras. Dimana selalu mewujudkan targetnya itu banyak waktu yang diperlukan. Semua itu dilakukan dalam rangka untuk mewujudkan keinginannya memberi ilmu yang sempurna kepada mahasiswa.
Menurut Kastiawan, istrinya dikenal memiliki kecintaan pada ilmu. Saat di rumah, memasak tidak sekadar rutinitas. Melainkan sebagai wujud kehangatan dan perhatian kepada keluarga.
‘’Menyiapkan sarapan pada pagi hari untuk anak-anaknya dan suaminya, menyiapkan bekal yang bisa dibawa ke kantor. Dan menu makanannya selalu variatif,’’ ujarnya. ‘’Ini ternyata sebagai simbol filosofis, bahwa memasak itu ada unsur mendidik. Yakni, menunya selalu berbeda. Filosofi memasak, ada unsur pendidikannya yakni berani mencoba hal yang baru. Dan jika gagal merupakan pengetahuan yang baru untuk meraih sukses,’’ imbuhnya.
Menurutnya, keluarga besar istrinya itu sudah ada DNA guru. Setelah lulus di ITS sempat kerja di pabrik kertas. Hingga akhirnya menjadi dosen di Universitas Marhaen.
Di Tahun 2022, Fajar membawa Untag Surabaya meneruskan tren positif pada kompetisi program hibah, yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud RI.
Sosok Fajar juga terlibat langsung, saat Untag Surabaya bersama 11 perguruan tinggi lainnya mendukung percepatan penanggulangan Covid-19 yang ada di Indonesia, melalui Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Covid-19 (TFRIC19)
Sementara itu, Bupati Blora, Arief Rohman mengapresiasi dan mengaku bangga terhadap capaian putri asli Blora itu. Terlebih, Fajar Astuti sosok kakak kelas orang nomor satu di Blora itu.
‘’Selamat, ini luar biasa, karena putri asli Blora yang lahir di tengah hutan, dan dikukuhkan sebagai guru besar. Ini pencapaian luar biasa, dan merupakan kebanggaan warga Blora. Ini menginspirasi generasi muda Blora,'' ujarnya.
Bupati Arief juga mengatakan, Fajar juga pernah melakukan penelitian di Blora pada Tahun 2016, 2017 dan 2019. Untuk itu diharapkan, dengan pengukuhan itu merupakan awal kerjasama konkret antara Untag 45 surabaya dengan Pemkab Blora.
‘’Pemkab Blora siap bekerjasama untuk pengembangan SDM. Karena kebetulan di Blora juga ada program satu desa dua sarjana, program beasiswa bagi warga tidak mampu namun berprestasi. Saat ini, ada 50 perguruan tinggi kerja sama dengan Pemkab Blora. Blora ingin menjalin kerjasama dengan Untag Surabaya,’’ jelas Arief. (hul/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana