Aliya Nadira Habibah menjadikan taekwondo sebagai jalan keberanian sejak usia 8 tahun. Belajar mengalahkan rasa takut. Berhasil mengubah bullyan menjadi tepuk tangan kebanggaan.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
LANGKAHNYA mungil, usianya baru genap sepuluh tahun. Namun, dentum semangatnya di arena taekwondo sudah bergema melampaui batas sekolah dasar.
Anak asal Kelurahan Karangpacar, Kecamatan Bojonegoro Kota ini berhasil menorehkan deretan tinta prestasi.
Terbaru, Aliya Nadira habibah, sukses menyabet Juara 3 Kyorugi semi prestasi pra cadet C F-26 25-28 dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) antar Pelajar Malang 2025.
Perjalanan Aliya bermula sejak usia 8 tahun. Berawal dari luka hati karena di-bully temannya. Orang tuanya ingin ia tumbuh dengan mental baja, tak lagi gentar menghadapi dunia.
Terutama, teman yang membullynya. Maka, taekwondo menjadi jalan pembentukan diri. “Orang tua saya memotivasi agar totalitas ketika melakukan sesuatu agar hasilnya maksimal, bukan sekedar ikut-ikutan,” kata siswa kelas 4 MIN 1 Bojonegoro tersebut.
Keyakinan itu tumbuh subur. Medali demi medali berhasil didapatkan dari berbagai gelanggang.
Dua emas dan satu perunggu dalam kejuaraan tingkat Kabupaten. Juga, tiga emas dan satu perunggu di kejuaraan tingkat Provinsi.
Sederet prestasi yang berhasil diraih, meliputi Juara 3 pra kadet putri u-24kg Kejurkab Taekwondo antar pelajar Bojonegoro 2024; Juara 1 F-KYORUGI group 010 kejuaraan taekwondo Unesa Rektor Cup II se-Jatim 2024.
Lalu, Juara 1 pra kadet putri U-24 kg piala kepala Kemenag kejuaraan taekwondo open Kyorugi se-Bojonegoro 2024; Juara 1 f- Kyorugi grup 014 Kejuaraan Taekwondo Kota Surabaya 2025.
Kemudian, Juara 1 F-Kyorugi grup 022 8-11 Kejurprov Jatim Jember road to Porprov 2025; Juara 1 pra kadet Putri U-26 kg 24 Kejuaraan Porkab 3 di Bojonegoro 2025; dan juara 3 Kyorugi semi prestasi pra cadet C F-26 Kejurprov antar pelajar malang 2025.
Bagi Aliya, setiap pertandingan adalah jendela. Dari sana ia bisa bertemu atlet lain dari berbagai daerah, menyulam pengalaman, memperkaya cerita.
Tidak hanya pengalaman, penguasaan emosi dan disiplin diri juga terlatih dalam cabor yang diikuti tersebut.
“Jangan meremehkan lawan ketika di arena,” pesan yang selalu dibawanya dalam bertanding.
Tidak selalu berjalan mulus, perjuangan demi perjuangan dilakukan untuk memberikan yang terbaik bagi orang tua, guru, sekolah, dan daerah kelahirannya.
Di balik keberanian yang kian terasah, Aliya harus berjuang melawan rasa lelah. Terlebih, ketika mengikuti event di luar kota dengan biaya yang tidak sedikit.
Dukungan dari keluarga, teman, dan para guru menguatkan langkahnya. Menuntun untuk terus berkibar lebih tinggi lagi dan lagi.
Mengukir prestasi hingga di tingkat Nasional dan Internasional. Itulah mimpi yang selalu tumbuh dalam dirinya.
“Saya senang mengikuti cabor taekwondo karena bisa berkenalan dengan teman dari berbagai kota dan menambah pengalaman. Semoga saya bisa berprestasi sampai tingkat Nasional, bahkan Internasional,” harapnya.
Aliya, kini bukan lagi sekadar anak kecil yang pernah di-bully. Ia telah menjelma menjadi simbol kecil dari sebuah perlawanan.
Bahwa keberanian, bila diasah dengan sungguh-sungguh, bisa menjadi cahaya yang menerangi jalan prestasi. (*/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko