Annisa Elchamida terdorong penelitian sekaligus mencari solusi dari pencemaran limbah penambangan minyak tradisional di Wonocolo.
IRVAN RAMADHON, Bojonegoro
PENCEMARAN tanah di Geopark Teksas Wonocolo akibat limbah ekplorasi minyak bumi mendorong Annisa Elchamida untuk mencari solusi mengatasi pencemaran limbah.
Keilmuan di bidang biologi menjadi dasar perempuan akrab disapa Nisa ini melakukan penelitian bakteri di penambangan minyak tradisional. Bakteri digunakan untuk mengurai limbah minyak di tanah sekitar lokasi penambangan.
Mahasiswi 25 tahun itu sadar aktivitas eksplorasi minyak di Wonocolo berlangsung setiap hari. Sehingga tiap hari juga menghasilkan limbah minyak. Limbah tersebut menumpuk dan berpotensi menganggu ekosistem. Baik tumbuhan maupun hewan.
‘’Juga bisa berdampak ke manusia jika limbah semakin menumpuk,” ungkap mahasiswi Universitas Gajah Mada tersebut.
Nisa melakukan penelitian dengan untuk mencari solusi mengurai limbah minyak. Salah satunya menggunakan bakteri dari minyak di Wonocolo untuk mengurangi limbah tersebut.
Sebenarnya untuk mengurai limbak minyak bisa menggunakan tanaman dan mikroorganisme. Namun ketika menggunakan tanaman, limbah yang masuk ke tanaman bisa berpindah ke hewan melalui rantai makanan.
‘’Bahkan bisa masuk ke manusia jika tanaman di konsumsi hewan ternak dan akhirnya terkonsumsi manusia,” terang mahasiswi asal Kelurahan Sumbang, Kecamatan Bojonegoro Kota tersebut.
Selain itu, limbah yang terus terjadi bisa mencemari air tanah. Terlebih pencemaran terjadi secara vertikal maupun horizontal.
Nisa memutuskan untuk menggunakan bakteri yang ada di minyak untuk mengurai limbah minyak. Terlebih sesuai dengan keilmuan yang domiliki.
Nisa membutuhkan waktu selama tujuh bulan untuk melakukan penelitian. Mahasiswi alumnis MIN 1 Bojonegoro tersebut harus bolak-balik ke Bojonegoro-Jogyakarta, karena harus mengambil sampel minyak dan tanah di Wonocolo.
Nisa banyak menghabiskan waktu di laboratorium selama penelitian, untuk menemukan bakteri tidak mudah. Waktu tiga bulan dibutuhkan untuk menemukan dan mengembangkan bakteri.
Bakteri ditemukan lalu diuji coba ke tanah yang tercemari limbah. Butuh waktu dua bulan untuk melakukan uji coba. Hasilnya bakteri bisa mengurai limbah, namun lambat. Sehingga perlu diberi nutrisi agar penguraian limbah lebih cepat.
‘’Ada dua nutrisi yang diberikan, yaitu pupuk kandang dan dedag,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara tersebut.
Nisa ingin mengaplikasikan hasil penelitiannya untuk mengurai limbah minyak di Wonocolo. Sehingga pencemaran dari eksplorasi minyak tradisional bisa teratasi.
‘’Siap berkolaborasi dengan berbagai pihak,” ujar alumni Universitas Negeri Malang tersebut
Selama ini, lanjut dia, kesadaran masyarakat terkait adanya pencemaran belum tumbuh. Sehingga perlu peran dari berbagai pihak untuk ikut andil. Baik melalui pengabdian masyarakat dari kampus, mahasiswa KKN, hingga peran masyarakat sendiri. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana