Siti Isaroh Nashiin menenun cinta pada seni. Dengan berkolaborasi bersama suami, sukses berkarya sebagai sumber rezeki.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
EMPAT tahun berjalan, jemari Siti Isaroh Nashiin tidak pernah lelah menari di atas kain, benang, hingga rangka besi. Dari kecintaannya terhadap karya seni, lahirlah berderet karya kerajinan maskot yang terpajang rapi di rumahnya. Tidak hanya sekadar menjadi pajangan. Setiap karyanya bernilai jual dan menjadi ladang rezeki tersendiri untuk keluarganya.
“Bermula dari hobi yang terus menerus ingin membuat sesuatu, apapun itu yang berhubungan dengan seni,” kata Isaroh sapaannya.
Alumni Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya tersebut memiliki bakat seni yang tidak diragukan lagi. Bahkan, sejak masih duduk di bangku sekolah, ia sudah mulai menekuni berbagai karya seni. Mulai dari melukis, membuat kaligrafi, kerajinan mahar, hantaran, hingga berbagai jenis buket.
“Alhamdulillah, atas izin Allah sampai sekarang masih bisa berkarya dan membantu suami untuk mencari ladang rezeki bagi keluarga,” tuturnya.
Menurutnya, bidang seni membuat maskot dibutuhkan ketelatenan. Mulai dari bagian sederhana hingga rumit. Rancangan desain sangatlah penting. Mulai pembuatan pola hingga motif.
Begitupun untuk pembuatan mahkota, dibutuhkan kerangka yang harus disusun terlebih dulu. Agar menghasilkan mahkota yang nyaman dan indah dipakai.
Dalam proses pembuatan maskot, Isaroh tidak sendiri. Ia selalu berkolaborasi dengan suami. Ia mendesain, menjahit, dan merangkai. Sementara, sang suami membuat pola dan kerangka. Dari kolaborasi itu, tercipta harmoni, karya yang indah, juga ikatan hati yang kian kukuh.
Perempuan asal Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor tersebut mengatakan, proses pembuatan maskot menjadi hal paling disukai. Karena bisa me time bersama keluarga.
Terlebih, dalam prosesnya melibatkan sang suami. Sehingga, bisa sambil ngobrol asik tentang apapun yang mencipta romansa tersendiri.
Sang Suami yang semula tidak bisa sama sekali dalam pembuatan karya seni. Kini, sudah sefrekuensi dengan Isaroh. Bahkan, ketika dalam titik jenuh, Sang Suami yang membangkitkan kembali semangatnya untuk terus berkarya. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana