Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kireyna Calya Winandra, Siswa Asal Bojonegoro Jadi Bagian Paskibraka Jatim: Menjalani Karantina Tanpa Smartphone

M. Irvan Romadhon • Kamis, 11 September 2025 | 21:48 WIB
BERSAMA GUBERNUR JATIM: Kireyna Calya Winandra foto bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
BERSAMA GUBERNUR JATIM: Kireyna Calya Winandra foto bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

 

Berawal dari mencoba bergabung ke ekstrakurikuler pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) di sekolah, Kireyna Calya Winandra berhasil menjadi perwakilan Bojonegoro dalam Paskibraka Jawa Timur.


IRVAN RAMADHON, Bojonegoro


BANGGA, senang, dan haru masih menyelimuti Kireyna Calya Winandra. Setelah mendapat kesempatan menjadi bagian dari Paskibraka Jawa Timur dalam upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung Grahadi, Surabaya pada 17 Agustus lalu.

Yaya sapaan akrabnya terlihat antusias dan bersemangat menceritakan pengalaman manjadi paskibraka provinsi kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (9/9) di SMAN MT Bojonegoro. Siswi kelas 11 tersebut dengan percaya diri menceritakan perjuangannya bisa menjadi pasukan 45 dalam pengibaran bendera pusaka merah putih di tingkat provinsi.

"Bangga, dan tidak menyangka," ungkap siswi asal Desa Sendangrejo, Kecamatan Dander tersebut.

Perjalanan Yaya dimulai dengan mendaftar diri dan menjalani seleksi di tingkat kabupaten bersaing dengan tiga peserta lainnya.

''Peserta lainnya saya rasa lebih punya nilai lebih," jelas anak kedua dari dua bersaudara tersebut.

Setelah menunggu sekitar satu bulan, akhirnya berhasil lolos. Ketika mendapat pengumuman langsung menyampaikan ke orang tua.

''Menangis terharu bersama keluarga di rumah," jelas siswi SMAN MT Bojonegoro tersebut.

Kemudian di tingkat provinsi kembali diseleksi pada Mei lalu. Untungnya masuk ke 10 besar dan berhak menjadi bagian Paskibraka Jawa Timur.

Yaya mulai dikarantina pada 5 Agustus. Sebelum berangkat karantina, menjalani latihan di kabupaten untuk mempersiapkan diri. Baik latihan fisik maupun pengetahuan terkait kewarganegaraan.

Selama di karantina, Yaya mendapatkan banyak pengetahuan terkait paskibraka dan wawasan kebangsaan. Selain itu, latihan sejak pagi hingga malam selama hampir dua minggu.

Yaya sempat merasa bosan dengan kegiatan sehari-hari selama karantina. Terlebih rutinitas sama dan dilarang berkomunikasi dengan orang luar. Agar fokus dalam mempersiapkan diri untuk mengemban tugas mengibarkan bendera pusaka.

''Smartphone dikumpulkan, jadi tidak bisa berkomunikasi dengan orang luar, termasuk keluarga," jelas alumni MTsN 1 Bojonegoro itu.

Namun Yaya terus berusaha untuk meningkatkan semangat dalam menjalani latihan setiap hari. Untungnya teman-teman sesama paskibraka menyenangkan. Juga bisa belajar budaya dari kota/kabupaten lain di Jatim.

''Belajar bahasa dari wilayah lain, seperti Madura hingga Osing," jelas siswi hobi modeling tersebut.

Selama karantina dan latihan, Yaya harus menjaga kondisi fisik. Rasa lelah karena latihan membuatnya harus bisa menjaga asupan makanan dan waktu istirahat. Sehingga badan tetap bugar dan bisa menjalani semua rangkaian latihan hingga upacara berlangsung.

''Memperbanyak minum air putih, dan memaksimalkan waktu yang ada untuk beristirahat. Terlebih sempat batuk dan demam," jelas siswi 17 tahun tersebut.

Yaya bangga dan terharu ketika bisa bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Bahkan sempat menangis ketika mendapat apresiasi dari gubernur. Baik saat pengukuhan maupun malam puncak.

Dukungan orang tua juga turut memotivasi Yaya untuk memberikan yang terbaik selama pengibaran bendera pusaka. Bahkan setelah upacara ketika bertemu dengan orang tua tangis haru dan bangga mengiringi pertemuan.

''Apalagi hampir dua minggu tak bisa berkomunikasi dengan keluarga," jelas siswi hobi basket tersebut.

Yaya juga sangat berterima kasih kepada orang tua yang selalu mendukung dan memfasilitasi semua kebutuhan. Juga bantuan dari senior paskibraka di sekolah, kabupaten, hingga provinsi.

Yaya sendiri baru mengenal paskibraka ketika duduk di bangku MTs. Walau awalnya tak begitu tertarik, namun di jenjang SMA ikut ekstrakurikuler. Dan ternyata menjadi titik awal ketertarikan dan kesempatan untuk menjadi bagian Paskibraka Jatim.Setelah mendapat pengalaman dan kesempatan menjadi paskibraka provinsi, Yaya saat ini ingin membagikan pengalaman ke juniornya. Sehingga ke depan ada lagi perwakilan dari Bojonegoro ke Jatim.

''Masa bakti hingga 1 Juni tahun depan. Sehingga jika ada upacara hari nasional lainnya bisa saja kembali dipanggil untuk menjadi petugas pengibar bendera," terangnya.

Pengalaman menjadi Paskibraka Jatim menjadi bekal Yaya untuk mencapai cita-cita melanjutkan pendidikan ke sekolah kedinasan. Terlebih bekal kemampuan fisik dan pengetahuan sebagai paskibraka bisa menjadi nilai lebih untuk mendaftar di sekolah kedinasan.

''Saat ini fokus belajar dan mengejar materi pelajaran, setelah harus meninggalkan pendidikan untuk menjalankan tugas sebagai paskibraka," terangnya. (irv/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jawa Timur #indonesia #hari kemerdekaan #Jatim #provinsi #paskibraka #kewarganegaraan #dander #Karantina #khofifah indar parawansa #bojonegoro #Sekolah #pengibar bendera #Grahadi