Awalnya Muhammad Syaifuddin Cahya, menyukai olahraga lari. Namun, karena badan yang semakin gemuk, ia lalu menekuni tolak peluru. Namun, dengan latihan serius dan doa orang tua, atlet muda dari Bojonegoro bisa meraih panggung prestasi Jawa Timur.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
DARI desa Purworejo, Kecamatan Padangan, Muhammad Syaifuddin Cahya membuktikan bahwa prestasi bisa lahir dari tekad kuat dan doa orang tua.
Meski menyukai olahraga atletik tolak peluru karena ketidaksengajaan. Namun, dirinya masih konsisten hingga kini.
Terbaru, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro ini sukses meraih medali perunggu dalam ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi (Pomprov) Jawa Timur 2025 cabang atletik tolak peluru.
Bersaing dengan atlet-atlet tangguh dari berbagai perguruan tinggi se-Jawa Timur tentu bukan perkara mudah. Meski bukan kali pertama Syaifuddin mencicipi podium kehormatan. Sebelumnya, ia juga berhasil menyabet juara tiga dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2022.
’’Awalnya nervous banget, karena musuh-musuh juga bagus-bagus,” akunya jujur.
Meski sempat gugup, pria asal Desa Purworejo ini tidak kehilangan fokus. Persiapan fisik dilakukan intensif melalui latihan fitness rutin dua bulan sebelum pertandingan digelar pada 3 Juni.
Ia sadar, dalam olahraga kekuatan seperti tolak peluru, pembentukan otot dan teknik adalah kunci. ’’Latihan dua bulan sebelum bertanding. Fokus di fitnes dan teknik dorongannya,” tambahnya.
Kecintaan Syaifuddin pada tolak peluru ternyata dimulai sejak usia 13 tahun, saat ia duduk di bangku kelas 7. Saat itu, seorang guru olahraga memperkenalkannya pada cabang olahraga ini.
’’Mulai tertarik sejak kelas 7, diajak guru olahraga. Tapi, ternyata saya nyaman,” kenangnya.
Awalnya, Syaifuddin justru menyukai cabang lari. Namun kondisi fisiknya membuat ia merasa kurang cocok. ’’Tapi saya kalau lari berat badannya, jadi saya milih tolak peluru,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Dalam setiap pertandingan, Syaifuddin selalu membawa satu ritual khusus yang ia yakini turut menguatkan mentalnya, yaknu restu dan doa orang tua. ’’Selain persiapan, juga doa orang tua. Itu penting banget buat saya,” katanya dengan tersenyum.
Kini, mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi itu terus mengasah kemampuannya. Ia berharap bisa melangkah lebih jauh, tak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga nasional. (dan/bgs)