Nama Revita Khoirisalma layak digadang-gadang sebagai salah satu generasi emas pecatur asal Kota Ledre. Perempuan yang baru lulus SMA tahun ini tersebut, telah menorehkan prestasi sejak usia TK. Hingga memecahkan rekor emas pertama untuk Bojonegoro.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
Ketekunan Revita Khoirisalma di depan papan catur, tak sekadar hobi yang baru dipelajarinya kemarin sore. Sebab, perempuan berjilbab itu, menganggap catur telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil hingga kini.
Hal tersebut, tentu bukan sekadar ucapan. Revita, sapaannya, yang mengaku memulai perlombaan catur sejak TK, pernah memecahkan rekor sebagai peraih medali emas pertama catur bagi Bojonegoro sepanjang sejarah mengikuti porprov.
Dalam percakapan singkatnya, alumni siswi SMAN 1 Sumberrejo itu telah mulai tertarik dengan catur sejak usia TK. ’’Saya mulai belajar catur tahun 2014, kali pertama melihat kakak sama ayah sering main catur di teras rumah, nah lama kelamaan saya mengerti penataan petak,” ceritanya.
Ketertarikan anak-anak dalam memerhatikan orang sekitar itu, ternyata tak main-main. Bahkan, ketika ada kesempatan untuk ikut perlombaan catur, hal itu dibuktikannya. ’’Waktu itu ada perlombaan catur tapi tingkatan paling kecil cuma ada kategori SD, sedangkan saya masih TK, sama ayah tetap diikutkan dan dapat juara 2,” kenangnya.
Tak lama setelah itu, bakat mudanya langsung dilirik oleh Percasi Bojonegoro. Hingga membuat pengurus Percasi datang ke rumahnya untuk bergabung. Perempuan asal Dusun Tlumbung, Desa/Kecamatan Sumberrejo tersebut, beberapa kali mewakili Bojonegoro dan provinsi dalam kejuaraan catur.
Saat ini, dirinya berharap tetap konsisten, dan bisa meraih banyak prestasi ke depannya. Tak lain, hal itu karena untuk membanggakan keluarganya yang selama ini, menginspirasi dan mendukung keinginannya.
’’Bisa membanggakan orang-orang di sekitar saya, terutama orang tua saya dan juga Bojonegoro,” ucap perempuan yang baru saja diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur SNBP itu.
Selain itu, wujud konsistensinya tak berkurang meski mulai berajak dari sekolah. Bahkan, ia ingin terus berada dalam dunia catur. ’’Nah, jadi saya ambil jurusan gizi karena sebenarnya ingin kerja di bidang kesehatan sekaligus keolahragaan ke depannya, saya ingin kerja di kemenpora/dinpora sebagai ahli gizi atlet,” pungkasnya. (dan/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana