Banyak anak muda sadar keresahan lingkungan sekitar, layaknya anggota Sanggar Jati yang fokus kesejahteraan guru melalui kolaborasi kegiatan seni dan pendidikan. Rutin berdonasi minimal untuk satu orang setiap bulan.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
SEMANGAT muda, terus berjuang di jalur sosial menjadi pilihan lima pemuda asal Kecamatan Kedungadem. Pemuda-pemuda penuh tekad itu memiliki panggilan Ois, Rama, Faruq, Alwi, dan Guntur.
Dengan asa yang sama, mereka mendirikan komunitas Sanggar Jati, fasilitas ruang seni bagi pelaku seni dan pendidikan. Dalam satu waktu, tim Jawa Pos Radar Bojonegoro pun berkesempatan mewawancarai Pendiri Utama Sanggar Jati, Fahrudin Imam Nurkolis yang kerap disapa Ois.
Dalam kesempatan itu, ia menunjukkan berbagai foto kegiatan. Dari mengajak anak-anak bermain hingga membuka perpustakaan di desa-desa. Senyum merekah terpancar dari raut wajah mereka. Ois pun mulai bercerita awal mula berdirinya Sanggar Jati.
Diawali pada 2023, pembicaraan itu pertama dilakukan dengan satu rekannya, Rama. ’’Bukan secara organik juga. Karena sebelumnya aku dan Rama sering buat karya bareng tapi selalu virtual. Aku (kuliah) di Surabaya dan Rama di Jakarta,” ucap lulusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Setelah lulus kuliah, lanjut dia, ingin membuat sesuatu yang hidup atau ruang kreasi di lingkungan sekitar rumah. Hingga akhirnya, pada 9 Juni 2023 berdirilah Sanggar Jati.
Tidak lepas dari filosofi kultur ekologi dan identitas Bojonegoro, pohon jati. ’’Sehingga, JATI kami hadirkan sebagai akronim dengan kepanjangan Jong Art Theatre of Indonesia. Pemuda dengan jiwa seni,” tuturnya.
Menurutnya, seni dianggap sebagai bidang paling kompleks untuk menggapai berbagai hal. Khususnya, sosial dan pendidikan. Dari sini, ia mengaku mulai mencari anggota dan memprioritaskan area Kecamatan Kedungadem.
Tujuan berdirinya Sanggar Jati tidak lepas dari keinginan kiat para pendiri dan anggota, sebagai fasilitas seni yang disiapkan dengan program kolaborasi. Menyiapkan satu ruang khusus untuk eksplorasi seni.
’’Kami melakukan perjalanan sebagai riset. Terutama, di bidang pendidikan jenjang TK dan SD. Karena kami memang fokus pada akarnya lenih dulu sebelum ke masalah yang lebih kompleks,” ujarnya.
Pria kelahiran Desa Mlideg, kecamatan setempat itu menuturkan, Sanggar Jati bergerak dengan kolaborasi. Harapannya, dapat mengisi program dibutuhkan sekolah-sekolah. Hal itu didasari pendataan yang dilakukan. Selain itu, imbuh dia, juga memiliki program internal yang dibuat dalam jangka panjang.
Di antaranya Perpustakaan Desa Mlaku-Mlaku (jalan-jalan, Red) untuk merespons literasi dan media pembelajaran agar lebih eksploratif. Dengan ini, ia mengaku, membuka donasi buku dari segala penjuru.
’’Program ini fokus untuk membantu program yang ada di sekolah. Misal gerakan literasi. Buku itu kami kelilingkan ke sekolah dan kami sosialisasikan sesuai kebutuhan,” jelas dia.
Juga ada program Series: Sharing Bareng Sobat Jaties. Ini memanfaatkan media sosial (medsos) seperti Instagram untuk siaran langsung. Pertama, dengan melakukan pendataan orang Bojonegoro dengan keahliannya masing-masing.
Tujuannya, agar semakin banyak orang tahu bahwa Bojonegoro menjadi salah satu tempat orang-orang membangun kotanya sendiri. Paling menonjol yakni Donasi Pendidikan.
Ois mengatakan, program ini merupakan upaya untuk terus memperjuangkan hak gaji guru. Pihaknya membuka donasi berupa uang yang nantinya diberikan kepada guru PAUD hingga SD yang masih jauh dari kesejahteraan.
’’Pelaporannya bersifat transparansi dari medsos. Dan, donasi kami lalukan setiap bulan. Tiap bulan itu kami harus bisa memberi minimal satu orang,” ucapnya penuh semangat.
Setidaknya, lanjut dia, hingga kini sudah mengantongi sepuluh nama. Menurutnya, ini berangkat dari banyak cerita dan fakta di lapangan. Miris ketika honor didapat para guru hanya sekitar Rp 300 ribu per bulan.
Untuk program seni, jelas dia, masih dilakukan secara sastra lisan. Seperti mencari tahu histori desa dengan masyarakat yang tinggal lama atau tokoh yang dipercaya. Bahkan, pentas tahunan berniat ia gelar.
Dari teater, ludruk, atau pertunjukan musik saat hari besar nasional. Program itu berencana dilakukan Agustus mendatang. ’’Harapan kami terkait histori desa bisa diketahui oleh anak-anak dan para pemuda, sehingga legacy desa terus terjaga,” pungkas dia. (yna/bgs)
Editor : Hakam Alghivari