Hidup serba kekurangan masih dirasakan warga di perbatasan dan pinggiran hutan. Hidup serba susah, terkadang lelah berharap kepada pemerintah.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
LANGIT cerah mengantar perjalanan dua jurnalis perempuan menyusuri jalan Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo siang itu. Satu di antaranya dari Jawa Pos Radar Bojonegoro. Meski sebelumnya hujan turun deras tak disangka alam membersamai sebuah perjalanan penuh drama itu.
Mencoba menelisik kondisi nyata di lapangan masyarakat perbatasan. Khususnya area Bojonegoro barat. Yang berbatasan langsung dengan Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi.
Dalam perjalanan, tidak sedikit melalui pepohonan dan area rindang. Hingga melewati dan menemukan salah satu rumah yang masih berdinding kayu dan beralaskan tanah. Supatmi nama pemiliknya.
Dalam satu kesempatan, para jurnalis menghampiri dan melakukan wawancara. Obrolan demi obrolan mulai terlontarkan. Hingga keluhan yang mereka rasakan.
‘’Kadang kerja itu hanya sesekali. Kadang satu atau tiga bulan juga tidak bekerja,’’ ucap Supatmi, warga Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo.
Dia mengaku, hingga menginjak usia sekitar 50 tahun lebih itu kerap kali masih harus banting tulang sana-sini mengais rezeki. Untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari.
Menjadi buruh terutama buruh tani menjadi pilihan yang bisa diambil. Upah tak mesti, kadang dapat Rp 80 ribu sehari. ‘’Tapi, ini kan tidak setiap hari,’’ keluhnya.
Dia mengaku, karena kondisi ekonomi kedua anaknya yang kini sudah berumah tangga masing-masing hanya bisa disekolahkan sampai sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Selain kerja serabutan, hanya berharap satu dua bantuan.
Seperti program keluarga harapan (PKH) dan bantuan pangan (banpang). Yang kini tak lagi didapatkan. ‘’Dulu PKH masih keluar. Waktu anak sekolah sama diberi uang, saat lulus hanya beras dan telur itu. Dan pernah dapat yang beras 10 kg,’’ katanya.
Supatmi terlihat bingung, tak mampu mengungkapkan apa yang diharapkan. Sebab, kondisi itu sudah ia alami bertahun-tahun lamanya.
Jika boleh berharap tentu ingin hidup lebih makmur. ‘’Tidak ada harapan. Apa saja tidak tahu. Kalau bantuan tentu tidak menutup kebutuhan,’’ tuturnya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana