Ibu menjadi madrasah pertama bagi anak, inilah yang menjadi salah satu faktor Saffanah Galby Muhaimin berhasil meraih juara 1 Tahfidz Quran Radar Bojonegoro 2025.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
RAUT ketegangan Saffanah perlahan memudar, setelah namanya disebut dalam daftar pemenang Tahfidz Quran Radar Bojonegoro 2025.
Saffa, dengan tenang menuju panggung grandfinal dan awarding di Pendapa Malawapati pada Rabu (19/3) lalu. Ia pun menerima piala langsung olah Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro Nurul Azizah.
Pemandangan tersebut, disaksikan langsung kedua orang Saffa, yakni Muhaimin dan Asmaul Husna. Tentu saja, perasaan haru sekaligus bangga terpacar jelas dari keduanya saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro di lokasi acara.
‘’Alhamdulilah, tentu sangat bangga, apalagi masih anak satu-satunya,” ungkap Muhaimin dengan mata berkaca-kaca.
Pria yang tinggal di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban itu mengungkapkan, meski punya pengalaman mengajar selama 10 tahun sebagai guru agama.
Namun, awal mula anaknya belajar mengaji justru dari ibunya, yang seorang guru bahasa inggris. ‘’Ngaji awalnya di ibunya mawon, dan itu sudah bisa,” imbuhnya.
Muhaimin menceritakan, setelah mengetahui informasi lomba di Tahfidz tersebut dari media sosial, keduanya langsung menawarkannya ke anaknya.
Terlebih, anak semata wayangnya itu, punya dasar kuat sejak kecil. ‘’Mulai belajar ngaji sejak sebelum PAUD, usia empat tahun sudah sempat khatam 30 juz,” imbuh pasangan suami istri alumnus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu.
Namun, orang tua Saffa bukan tanpa kendala saat membimbing anaknya belajar. Sebab, anaknya bukanlah tipikal anak yang sangat rajin dalam belajar.
Bahkan hingga saat ini, Saffa punya cara sendiri untuk belajar. ‘’Seperti punya dunia sendiri, kalau mood sedang bagus ya belajar rajin,” tuturnya.
Meski demikian, dirinya percaya bahwa orang tua perlu menyesuaikan bagaiaman tipikal anak. Agar bisa mencari cara terbaik agar pendidikan tetap berjalan.
Kendati sang buah hati punya dunia sendiri, namun sedikit banyak orang tua terbantu dengan hobinya. ‘’Hobinya ya hanya membaca,” bebernya.
Saat ini, keduanya sepakat untuk terus membimbing anaknya. Sejak sering mengikuti berbagai perlombaan, seperti tahfidz, ceramah, dan qiroah. Membuat banyak anak-anak seusia di lingkungan rumahnya terpantik untuk belajar ngaji.
‘’Sejak sering ikut lomba, banyak anak-anak tetangga ya pengen ikut ngaji di rumah,” pungkasnya. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana