Brian Galeh Bagaskara sukses meraih juara di berbagai kompetisi sepak bola. Paling berkesan pernah bermain melawan Tim Favorit, Barcelona dan Real Madrid.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
SENYUM pria berkaus merah itu tampak merekah, tangan kanannya mengangkat piala, tangan kirinya memegang menunjukkan kalung juara, dia adalah Brian Galeh Bagaskara.
Usianya baru sekitar 20 tahun. Namun, semangat dan kerja kerasnya berhasil meraih prestasi gemilang di bidang sepak bola.
Mulai dari Juara 3 Indonesia Muda U-13 di Bojonegoro 2017, Juara 1 Piala Soeratin U-15 se-Kabupaten Tuban 2019, Juara 1 Liga Santri se-Provinsi Jawa Timur 2022, hingga Juara 2 Liga 4 Provinsi Kalimantan Selatan 2025.
Sepak bola telah menjadi hobi Brian sejak kecil. Bermula dari bermain sepak bola di kampung dengan tidak menggunakan sepatu. Ia berlatih dan mendalami sepak bola dengan serius untuk menggapai mimpinya.
‘’Hobi dari kecil. Sangat suka sepak bola sejak kecil,’’ tuturnya.
Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro itu menceritakan, sederet pengalamannya dimulai dari mengikuti kelompok umur Indonesia Muda dan Piala Soeratin.
Kemudian, melanglang buana ke Bhayangkara Presisi Indonesia U-20 pada 2023-2024. Selanjutnya, di Putra Plaosan Martapura 2024-2025.
Satu dari sederet pengalaman yang paling berkesan bagi Brian adalah ketika melawan tim yang diidolakan. Yakni, Barcelona dan Real Madrid.
Saat itu, ia membela Bhayangkara FC. Kemudian, mendapat kabar untuk mengikuti seleksi panggilan di Surabaya. Dari sekitar 100 orang yang mengikuti seleksi selama sekitar satu bulan lamanya. Diambil sekitar 35 pemain terbaik dan masuk salah satunya sebagai pemain inti.
‘’Paling suka saat bisa melawan tim yang diidolakan. Yakni, Barcelona dan Real Madrid. Bisa masuk televisi waktu itu di RCTI,’’ bebernya.
Tidak selalu berjalan mulus. Halang-rintang kerap menghadang jalan Brian dalam meraih mimpinya di dunia sepak bola. Seperti saat 2022 lalu, setelah lulus sekolah masuk di Bhayangkara Surabaya sekitar 3 bulan. Ketika kompetisi U-20, terdapat tragedi Kanjuruhan Malang. Membuat liga terpaksa berhenti.
Brian hampir tidak main bola lagi. Tercetus keinginan untuk bekerja di luar sepak bola saja. Namun, berkat dukungan dari orang tua. Ia bangkit dan kembali latihan.
Bersyukurnya, kompetisi bisa kembali digelar pada 2023 lalu dan ia mendapat panggilan untuk mengikuti seleksi Bhayangkara lagi.
‘’Selain itu, kompetisi sepakbola yang sempat terhenti karena Covid-19 pada 2019 lalu juga membuat saya sedih,’’ lanjutnya.
Brian berharap ke depan bisa menjadi lebih baik. Dengan mimpi besar di dunia sepak bola, bisa mendapat panggilan dari Tim Nasional. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana