Yusuf Susilo Hartono ikut pamerkan karyanya di seni rupa Islami di Jakarta. Jurnalis dan penyair itu memamerkan tiga karya lukisnya berupa kaligrafi dengan makna mendalam.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro.
DERETAN lukisan kaligrafi terpajang di pameran seni rupa Islami Marhaban ya Ramadan 1446 Hijriah yang digelar di Galeri Neo, Jakarta Pusat.
Dari sekitar 42 karya yang terpajang, tiga di antaranya merupakan karya dari perupa asal Bojonegoro. Yakni, Yusuf Susilo Hartono.
Bersama dengan 14 perupa lainnya, Yusuf, menyulap galeri lantai 2 yang luas tersebut dengan bertabur ekspresi seni.
Memuliakan asma Allah, menegakan harkat perempuan, hingga doa untuk saudara-saudara Palestina yang terjajah zionis. Semua tertuang dalam lukisan kaligrafi hingga instalasi kontemporer.
‘’Sebagai satu kesatuan, 15 seniman dengan 42 karya ini menciptakan sejarah kecil dalam skala sejarah seni di Indonesia dengan menghadirkan berbagai keunikan, terobosan dan inovasi,’’ tutur Okky Madasari, selaku kurator.
Dalam pameran yang berlangsung mulai 22 Februari hingga 9 Maret 2025 tersebut, Yusuf yang merupakan seorang perupa, penyair, sekaligus jurnalis memajang lukisan kaligrafi dengan medium akrilik. Dengan sumber ide yang berbeda-beda, mulai dari aspek eksistensi, kultural, hingga kemanusiaan tertuang dalam karya lukis kanvas dalam berbagai ukuran.
Yusuf menceritakan, lukisan kaligrafi karyanya, pertama, Bulan Sabit di Palestina (2025). Warnanya mengacu pada bendera Palestina. Ditambahkan warna emas yang merupakan simbol keagungan pada lafal la haula wala quwwata illa billah.
Ekornya berbentuk bulan sabit. Menggambarkan imaji langit Gaza yang penuh dengan asap, api, darah, dan roh yang melayang.
Akibat hujan bom, peluru kendali, dan nafsu zionis Israel untuk menghambisi perempuan dan anak-anak Palestina yang tidak berdosa.
‘’Lukisan ini doa untuk kemerdekaan Palestina,’’ terangnya.
Selanjutnya, lukisan Aku Berzikir Maka Aku Ada (2025) meminjam cogeto ergo sum Descartes, visualnya tampil unik. Menggunakan elemen tasbih yang melingkar sebentuk imaji wajah, dan tulisan tulisan Hu Allah, menggantikan "bibir".
Merepresentasikan zikir (ingat) seorang hamba kepada Sang Pencipta di sembarang tempat dan waktu. Dalam dunia sufi Hu Allah bermakna "satu-satunya Dia saja". Hu berarti Allah itu sendiri.
Sedangkan lukisan Yasin, maka Bergetarlah Bumi dan Langit (2024/2025), diilhami oleh kebiasaan tahlilan di kalangan sebagian umat Islam di Jawa. Dengan aksesoris sinkretisme kembang dan tumpeng.
‘’Bagi yang percaya, ketika surat Yasin dilantunkan, maka langit dan bumi terasa bergetar,’’ lanjutnya.
Meski Yusuf bukan kaligrafer, namun dalam proses kreatif dan karya-karya lukisan serta puisinya, kental dengan nafas religius. Ia mulai tekun berkarya mulai 1980-an di Bojonegoro. Semakin gigih ketika hijrah ke Jakarta pada 1986 hingga sekarang.
Sederet kiprah sosok pemegang kartu Wartawan Utama Dewan Pers 2017 tersebut di bidang seni budaya. Meliputi, menggelar pameran Retrospeksi 40 Tahun Berkarya : Among Jiwo, di Museum Nasional, 2022. Kemudian, belasan kali pameran tunggal di berbagai tempat, diantaranya Galeri Nasional, Taman Ismail Marzuki (TIM), Pusat Kebudayaan Jepang, Balai Budaya, dan Bentara Budaya Jakarta. Juga, Finalis Philip Morris Art Award tahun 2000.
Selain itu, pernah pameran bersama dengan banyak tokoh perupa Indonesia. Diantaranya, Basoeki Abdullah, Nashar, Daoed Joesoef, Hardi, GM.Sudarta, dan Ipe Maaroef. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana