Menemani sang ayah saat bekerja menjadi juru tulis, hingga dibayangi stigma anak tahanan politik (tapol) rezim orde baru. Kini, Astuti berbahagia, karena Pramoedya diperingati seabad, buah karyanya jadi teladan hidup keluarga dan bangsa.
LUKMAN HAKIM, Blora
PARA tokoh nasional seperti Hilmar Farid, Bonny Triyana, dan pengagum Pram membacakan Memorial Lecture Seabad Pramoedya Ananta Toer di Pendapa Kabupaten Blora. Astuti dan keluarga mendengarkan dengan seksama, seperti mengingat kembali sosok ayah yang menjadi kebanggaan keluarga.
’’Senang bahwa Pram lebih diakui dan dihormati dengan agenda festival seabad ini,” ungkap Astuti usai acara Memorial Lecture, Kamis (6/2). Anak ke-4 dari delapan bersaudara itu masih terkenang masa kecilnya bersama sang ayah.
Banyak kesan yang tak akan sirna dalam benaknya, saat Astuti masih berusia delapan tahun sering diajak Pram untuk bekerja menjadi juru tulis di salah satu media cetak Bintang Timur, Lembaran Lentera.
Astuti mempersiapkan peralatan ayahnya, hingga diminta bantu mengetik tulisan. ’’Saya sudah bisa mengetik dengan sepuluh jari, ke mana Pram pergi ke luar kota, saya ikut. Tahun 1962 ikut agenda rapat Pram, dari kapal, pulau ke pulau yang lain,” ungkapnya.
Perempuan kelahiran 1956 itu juga masih teringat saat Pram dijadikan tahanan politik (tapol) pada rezim orde baru (orba). Pada saat itu, dirinya merasa kehilangan sosok ayah. Ia bertanya ke mana ayahnya pergi, namun tak ada jawaban pasti.
’’Bertanya kepada yang lain kan tidak tahu, saya kan anak tapol, tapi saya berusaha sendiri, kadang sedih gimana gitu,” ujarnya. Saat Pramoedya dipenjara, keluarganya merasa masih was-was. Setelah pindah ke rumah sederhana di Utan Kayu Jakarta.
Rasa khawatir masih menghantui, jika ada orang berseragam hijau pada saat itu, ibu Astuti sudah bersiap untuk menyembunyikan anak-anaknya. ’’Eh itu ada baju hijau, ibu sudah siap-siap. Anak-anak dimasukkan ke rumah. Kami sembunyikan di dalam lemari atau kolong kasur,” kenang dia.
Pramoedya selalu bercerita tentang masa kecil dan masa saat di penjara kepada anak-anaknya. Menurutnya, Pram adalah sosok yang selalu merasa sunyi, akan merasa senang jika ada lawan bicaranya, semangatnya akan menggebu-gebu.
Astuti berharap, generasi yang akan datang menangkap sinyal yang sudah ditulis Pram. ’’Selama ini, Pram itu berharap pembaca buku-bukunya dapat menangkap sinyal yang telah ditulis,” katanya.
Menurut Astuti, Blora menjadi salah satu daerah yang diceritakan Pram paling banyak dalam bukunya, seperti yang tertuang dalam buku Cerita dari Blora, Bumi Manusia, Gadis Pantai. Memuat khazanah epistemologi mengenai Gunung Kendeng, Kali Lusi, masyarakat Samin, dan kondisi sosial masyarakat saat itu.
’’Pram sudah menggambarkan, dipetakan sama Pram,” ungkapnya. Ia masih terkenang saat diajak ke Blora oleh ayahnya, Pram suka sekali dengan tahu telur. Kaki Astuti menjajakan kembali di Kabupaten Blora pada Rabu lalu (5/2) dan mencicipi kembali tahu telur yang disukai ayahnya tersebut.
’’Kulinernya hampir semuanya enak, tapi yang saya suka itu tahu telur. Pram juga seperti itu, Pram tidak makan daging,” tutupnya. (*/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana