Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenal Tim SAR Muhammadiyah Bojonegoro, Temui Kesulitan ketika Kurang Koordinasi dan Cuaca Buruk

Hakam Alghivari • Senin, 3 Februari 2025 | 23:00 WIB

 

PEMBEKALAN: Tim SAR Muhammadiyah Bojonegoro lakukan pembekalan dan pelatihan penyelamatan kepada para anggota di halaman kantor PD Muhammadiyah Bojonegoro.
PEMBEKALAN: Tim SAR Muhammadiyah Bojonegoro lakukan pembekalan dan pelatihan penyelamatan kepada para anggota di halaman kantor PD Muhammadiyah Bojonegoro.

Kecelakaan dalam air atau laka air membuat berbagai regu penyelamatan turun membantu. Tak terkecuali Tim Search and Rescue (SAR) Muhammadiyah Bojonegoro. Sigap menerjunkan personel dan rutin beri pelatihan keselamatan.

YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


KOMUNIKASI menjadi salah satu keahlian utama harus dimiliki personel regu penyelematan seperti SAR. Kemudian, pencarian dan penyelamatan, pertolongan pertama, hingga navigasi. Bojonegoro dengan daerah yang dilewati aliran Bengawan Solo kerap kali membutuhkan keahlian itu.

Sebab, tak sedikit kasus laka air atau orang tenggelam terjadi saat musim hujan. Berbagai sektor, dari barat hingga timur Bojonegoro hampir tidak pernah tidak memanfaatkan peran dan tugas kemanusiaan itu.

Banyak dari pemuda-pemudi turut andil dengan berbagai latar belakang. Dari bidang ekonomi kreatif hingga kesehatan. Tujuannya mulia, menemukan korban tenggelam di perairan atau tersesat di pegunungan.

Seperti tim SAR di bawah Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Bojonegoro, SAR Muhammadiyah. Salah satu anggota SAR Muhammadiyah Abdillah Mahardika mengungkapkan, pengalaman penyelamatan cukup beragam.

Karena beberapa kali terjun langsung di lapangan. Menurut dia, rerata laka diatasi regunya berasal dari laka air. ’’Terjun ke laka air beberapa kali. Seperti di Desa Semanding dan Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Bojonegoro Kota,” imbuh Dika, sapaan akrabnya.

Dia melanjutkan, beberapa pengalaman yang patut jadi perhatian dan evaluasi saat di lapangan di antaranya komunikasi, kondisi sekitar, dan cuaca. Terlebih, kesulitan penyelematan laka air biasa ditemui saat di tepian bengawan berlumpur.

Rawan terpeleset. Alih-alih menolong malah bisa jadi yang ditolong. Kemudian, tutur dia, saat di lapangan harus lebih intensif dalam komunikasi dan koordinasi. Sebab, pernah mengalami kurangnya koordinasi membuat upaya penyelematan tertunda.

Seperti saat tenggelamnya siswa sekolah menengah atas (SMA) di Kelurahan Banjarejo. Karena kurang koordinasi, Bendungan Gerak dibuka dan air otomatis mengalir deras. Sehingga, tim SAR gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro harus menunggu.

’’Otomatis air datang dan menunggu dulu untuk pencairan. Selain itu, juga cuaca buruk jadi kendala,’’ terangnya. Menurut dia, ancaman besar juga membayangi tim SAR. Yakni, risiko tenggelam dan cedera. Karena itu, harus mengikuti prosedur sesuai arahan.

Di antaranya menggunakan alat perlindungan diri (APD). Misal pelampung. ’’Dan, awal terjun pasti ada ketakutan ketika mayat atau jasad ditemukan. Tapi, seiring berjalannya waktu tentu terbiasa,” ungkapnya.

Dia menambahkan, setelah mayat ditemukan diserahkan ke pihak terkait. Misal dinas kesehatan (dinkes) dan BPBD. Sementara itu, kata dia, untuk penemuan mayat biasa terjadi di hari kedua atau ketiga dan seterusnya.

Karena menunggu jasad mengapung. ’’Biasanya hari pertama dan kedua masih belum ditemukan. Jasad mengapung rerata di hari ketiga dan keempat atau seterusnya. Dan, rerata laka air korban meninggal sejauh ini kami terjun,” katanya. (yna/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#Mengenal #Tim SAR #bojonegoro #muhammadiyah