Bangunan peninggalan Belanda di persawahan itu jadi saksi bisu geliat industri dan jalur distribusi minyak di wilayah Refinery Kapoean (Kilang Kapuan).
LUKMAN HAKIM, Blora.
BANGUNAN tua terlihat berdiri kokoh di tengah sawah, tepatnya di Desa Kapuan, Kecamatan Cepu. Sementara, jalur trem kereta pengangkut minyaknya, saat ini berubah menjadi jalan penghubung antara Desa Jipang dan Kapuan.
“Itu (bangunan) dulunya pabrik minyak, kalau yang disini jalur kereta pengakut, tembus ke Desa Kapuan,” ungkap Mbah Sukri, sambil menunjukan jalan yang dahulu merupakan jalur kereta pengangkut minyak.
Dari cerita yang didapatkan turun temurun, trem kereta itu sebagai jalur pengangkut minyak dari hasil eksploitasi di Sumur Semanggi. Wilayah perbatasan Jipang dan Getas yang masih menyisakan bangunan itu menjadi pabrik pengolahnya.
“Selain pabrik minyak, di pinggir bengawan dulu juga ada pabrik es milik belanda,” ungkap kakek berusia 70 tahun itu.
Cerita warga itu selaras dengan data di Belanda, salah satunya terkait Refenery Kapoean, dalam surat kabar De Sumatra Pos, 1923. Menceritakan, terdapat kebakaran besar di kilang kapuan, puluhan orang terluka. Pada saat itu, perusahaan yang mengelola adalah NV Nederlandse Koninklijke Petroleum Maatschappij (NKPM).
Dalam peta yang diterbitkan Belanda, juga terdapat wilayah minyak yang di kelola NKPM, seperti di Ngliron, Petak, Kapuan. Sementara sumber minyak di Cepu, Ledok, Semanggi, Dangilo, dan Wonocolo (Kedewan) di kelola oleh Batafche Petroleum Maatschapijj (BPM).
Mbah Sukri menceritakan, bangunan bekas pabrik minyak tersebut sempat dibongkar warga. Namun, kuwalahan karena material yang digunakan begitu kuat, akhirnya bangunan dibiarkan sampai saat ini.
“Kalau masuk ke bawah itu sampai setinggi leher,” ungkapnya.
Dia masih ingat pada masa kecilnya, bekas pabrik tersebut belum banyak berubah menjadi lahan sawah, beberapa tentara mengambil material di lokasi bangunan pabrik tersebut. Untuk pembangunan jalan.
“Tahun 65 (1965) itu masih banyak kerikil disekitar bangunan, diambil tentara untuk menguruk jalan,” kenangnya.
Pengamat Sejarah Cepu, Temy Setyawan membenarkan, jika NKPM merupakan perusahaan yang ditugaskan mengelola minyak di Kapuan, Ngliron, dan Petak.
Berdasarkan data dari dokumen CIA yang telah dipublikasikan. Ketika Belanda berhasil merebut kembali Indonesia, akan mengakuisisi bekas sumur-sumur tersebut.
“Agresi militer II, jika belanda kembali berkuasa bekas sumur-sumur minyak akan diakuisisi kembali,” katanya.
Fakta di lapangan, memang wilayah sekitar bekas pabrik tersebut merupakan wilayah Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Tentara besutan Soekarno itu dibentuk untuk mengamankan negara pascadeklarasi Kemerdekaan Indonesia. Hingga kini, nama AURI itu masih melekat di ingatan warga. “Kalau ini masuknya AURI,” katanya.
Temy mengungkapkan, sisa bangunan pabrik minyak tersebut menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari geliat industri minyak zaman Belanda, beberapa fasilitas seperti di Bandara Ngloram yang juga sudah dibangun pada saat itu.
Bangunan bekas pabrik minyak itu secara administratif berada di Desa Jipang, secara geografis Berbatasan Desa Getas, Kapuan dan Ngloram. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana