Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Profesor Sri Minarti, Cetak Sejarah Guru Besar Pertama di Bojonegoro: Gelar Profesor Bukan Akhir dari Proses Belajar

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 9 Januari 2025 | 21:29 WIB
PENJAGA MARWAH KEILMUAN: Profesor Sri Minarti, menjadi guru besar pertama di Bojonegoro. (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)
PENJAGA MARWAH KEILMUAN: Profesor Sri Minarti, menjadi guru besar pertama di Bojonegoro. (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)

 

Gelar guru besar menjadi puncak tertinggi di bidang akademik. Pencapaian itu terasa lebih spesial bagi Prof Minarti. Sebab, perempuan yang tinggal di Desa/Kecamatan Purwosari ini menjadi guru besar pertama di Bojonegoro.


DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro


RASA bahagia, lega, bercampur haru terpancar dari raut wajah Prof Minarti, pasca menyampaikan orasi ilmiah di di Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro kemarin (8/1).

Srikandi pendidikan asli Bojonegoro tersebut, akhirnya menuntaskan puncak gelar akademiknya.

Meski perjalanan panjangnya selama 30 tahun untuk meraih gelar tertinggi, bukanlah hal yang ringkas. Namun, hal itu tak lantas membuatnya berpuas diri. Karena menurutnya, manusia diwajibkan belajar tak hanya sampai gelar tertentu, tetapi diwajibkan belajar seumur hidup.

‘’Karena berproses belajar itu kan dalam ajaran islam sepanjang hayat, dari lahir sampai akhir, itu yang memotivasi saya,” ungkap Prof Minarti.

Meski demikian, gelar tersebut tentu membuat senang, lega, dan patut disyukurinya. ‘’Alhamdulilah, tuntas sudah. Puncak jabatan akademik sudah tercapai, sekarang tinggal mengembangkan ilmunya,’’ungkapnya pasca pengukuhan.

Menurutnya Dosen Pendidikan Agama Islam dan Direktur Pascasarjana Unugiri itu mengemban status sebagai guru besar diakuinya tidaklah ringan.

‘’Menyandang gelar guru besar, sebenarnya tidak ringan. Karena tugas profesor utamanya menjaga marwah keilmuan,” ungkapnya. 

Menurut ibu tiga anak tersebut, tanggung jawab itu masih berusaha untuk diembannya pasca meraih gelar profesor.

Ia mengibaratkan puncak gelar akademik tersebut seperti berhaji. ‘’Seperti orang haji, mabrur atau tidak hajinya dapat dilihat setelah berhaji. Saya juga berpikir begitu, gelar profesor tak lantas setelah itu selesai, tapi berkembang dan bermanfaat atau tidak keilmuannya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Dalam disertasinya, yakni tentang manajemen diri, menurutnya, hal tersebut menjadi basic kepimpinan. Sebab, ketika punya kemampuan untuk memimpin diri sendiri, maka di level apa pun nantinya, baik di level keluarga, desa, hingga lebih luas.

‘’Seperti orasi ilmiah yang saya sampaikan, yakni tentang kepemimpinan profetik ala Nabi. Hal tersebut didasari kepimimpinan diri sendiri, setelah itu baru bisa menjadi teladan bagi orang lain,” cerita dosen yang telah melahirkan 18 buku tersebut.

Bahkan, karakter tersebut, telah melekat di lingkungan keluarga yang disadarinya membentuk mentalnya untuk terus belajar.   ‘’Sebagaimana pesan ibu saya, pokonya belajar dan tuntut ilmu setinggi-tingginya. Urusan nanti jadi apa, urusan nanti. Pesan itulah yang saya pesankan juga ke anak-anak saya,” pungkasnya. (*/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Guru #akademik #guru besar #belajar #unugiri #profesor #islam #bojonegoro #Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri #mabrur #haji #pencapaian #ilmu #ilmiah