Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenal Kelompok Pengasak Padi saat Musim Panen Padi: Menyambung Hidup, Sehari Dapat Tiga sampai Lima Kilogram Gabah

Yuan Edo Ramadhana • Rabu, 28 Agustus 2024 | 18:37 WIB
SIBUK MEMILAH PADI: Mbah Rukmini (kiri) sedang memilah bulir-bulir padi untuk dimasukkan ke dalam kantong zak. (DEWI SAFITRI/RADAR BOJONEGORO)
SIBUK MEMILAH PADI: Mbah Rukmini (kiri) sedang memilah bulir-bulir padi untuk dimasukkan ke dalam kantong zak. (DEWI SAFITRI/RADAR BOJONEGORO)

 

Berangkat dini hari, lalu pulang menjelang petang menjadi rutinitas para pengasak padi di Bojonegoro. Di tengah panasnya siang, mereka mengais sisa-sisa padi hasil panen di beberapa titik.


DEWI SAFITRI, Bojonegoro


PANAS sang surya menyengat hebat. Tetes peluh bercucur dari wajah-wajah perempuan berhijab. Sesekali sekaan kasar dilakukan mengiringi aktivitas siang itu. Seolah mengabaikan panas yang menantang.

Sekitar sepuluh perempuan paro baya terus melanjutkan aktivitas di tengah persawahan. Mereka adalah sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengasak (pencari sisa-sisa tanaman hasil panen) padi.

Para pengasak tersebut fokus memungut satu-dua bulir padi yang masih menempel di batang sisa ngedos (pemisahan antara biji padi dengan batang menggunakan alat) di persawahan Desa Mulyoagung, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro.

Beberapa lainnya memungut bulir-bulir yang terjatuh di tanah. Mengumpulkannya menjadi satu wadah, kemudian dipisahkan antara biji padi yang berisi dan tidak.

’’Kalau panennya di-dos seperti ini lumayan, masih ada keceran (sisa padi yang menempel atau jatuh). Tapi, kalau di-combine bersih, tidak ada apa-apanya,” kata Panisih salah satu pengasak yang tengah beristirahat di bawah pohon pisang.

Kegiatan mengasak ini dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok berjumlah dua hingga tiga orang. Hasil dari pungutan padi yang telah dikumpulkan tersebut. Kemudian, akan dibagi rata dengan teman-teman sekelompoknya.

’’Sehari biasanya mendapat sekitar lima kilogram gabah dan dibagi rata,” ujarnya. Pengasak tidak hanya dari masyarakat sekitar desa. Namun, ada juga beberapa lainnya yang berasal dari luar desa dan kecamatan.

Seperti, dari Balen hingga Mojoranu. Para pengasak rela menempuh jarak puluhan kilometer dengan mengendari sepedah pancal menuju ke sawah-sawah yang tengah melangsungkan panen.

Ngasak telah menjadi pekerjaan bagi sebagian mereka yang tidak memiliki tanah untuk bertani. Juga, tidak sedang melakukan buruh tani. Karena terhimpit keadaan dan kebutuhan untuk bertahan hidup sehari-hari.

Tidak sedikit masyarakat rela berangkat pagi hingga pulang sore hari. Dengan tujuan, bisa mendapat hasil ngasak yang lebih banyak. Kemudian, dikumpulkan untuk dimakan sehari-hari.

Mbah Rukmini mengatakan, ngasak telah menjadi pekerjaannya sehari-hari, terutama saat musim panen. Bahkan, ia telah menjalani pekerjaan ini sejak usianya masih muda hingga sekarang.

Ia selalu berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00 WIB dan pulang sekitar pukul 17.00 WIB.  Dengan perolehan gabah sekitar tiga kilogram setiap harinya. ’’Setiap hari ngasak karena memang pekerjaannya ini dari dulu,” kata perempuan 70 tahun tersebut.

Meski hari-hari dihabiskan di tengah persawahan dengan harapan sekecil bulir padi yang terkumpulkan. Namun, tak ada keluh terhadap takdir yang tengah dijalani oleh para pengasak.

Mereka tetap melakukan aktivitas tersebut dengan canda tawa yang sesekali dilemparkan oleh teman-temannya. Bak setetes obat di tengah kelelahannya mengumpulkan bulir padi untuk melangsungan hidup. (*/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kecamatan #mojoranu #Gabah #Desa #bojonegroro #ngedos pari #Mulyoagung #Pengasak Padi #kabupaten #panen padi #balen #Combine