Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Arlita Elin Tifany, Penyanyi yang Berhasil Membuat Grup Band Bersama Suami: Pernah Nangis karena Disawer

Yuan Edo Ramadhana • Rabu, 31 Juli 2024 | 22:00 WIB
MENGHIBUR: Arlita Elin Tifany bersama grup Lirih Music menghibur tamu dalam sebuah acara seremonial. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
MENGHIBUR: Arlita Elin Tifany bersama grup Lirih Music menghibur tamu dalam sebuah acara seremonial. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Bakat Arlita Elin Tifany di dunia tarik suara tak perlu diragukan. Keahlian sejak kecil mengantarkannya jadi penyanyi di berbagai acara lokal hingga nasional. Bahkan, perempuan 30 tahun ini mendirikan grup band bersama sang suami.


DEWI SAFITRI, Bojonegoro.


ALUNAN musik berpadu dengan suara indah Arlita Elin Tifany. Kemerduan menggema di seluruh ruang acara. Memecah keheningan, mencipta daya tarik yang berhasil membuat banyak orang terkesima.

Elin sapaan akrabnya sudah mendalami seni musik sejak kelas 5 SD. Saat itu, mengikuti lomba nembang mocopat di tingkat kecamatan. Berkat suara indahnya, berhasil meraih Juara 1. Kemudian, berlanjut pada lomba di tingkat kabupaten dan mendapat Juara 2.

Dari kejuaraan tersebut, Elin mulai terkenal, juga diminta untuk menyanyi ketika penyerahan hadiah. Hingga tak sedikit yang tertarik dan mengajaknya berkenalan. Bahkan, ia juga mendapat tawaran spesial dari salah satu pelatih vokal.

‘’Dapat tawaran dari Pak Marno (pelatih vokal) untuk latihan bersamanya secara gratis,’’ ujar perempuan 30 tahun tersebut.

Ketekunan Elin dalam berlatih dunia tarik suara tidak diragukan lagi. Ia rajin latihan setiap sore bersama pelatih vokalnya. Hingga pada akhirnya sering diajak untuk menyanyi di acara-acara hajatan. Dari situ mentalnya sebagai penyanyi mulai terlatih.

Alumni Broadcasting R-Tv tersebut menceritakan, selalu merasa senang ketika berhasil menghibur banyak orang, menyanyi merupakan panggilan jiwa. Hingga menjadi sumber pendapatan.

Meski sempat mengalami trauma di tengah perjalanannya mendalami dunia tarik suara. Yakni, ketika dipaksa menyanyi dangdut dan disawer pada sebuah acara. Saat itu Elin masih duduk di bangku SMP, merasa dilecehkan ketika diperlakukan di panggung. Tangisan mengiringi perjalanan Elin ketika pulang saat itu. Bahkan bilang ke orang tua kalua tidak mau lagi menyanyi dangdut.

Namun, kejadian tersebut tidak menjadikan Elin lantas berhenti di tengah jalan. Ia kembali bangkit dengan prinsip hanya akan menerima tawaran menyanyi khusus untuk genre pop.

Terlebih saat itu, ia benar-benar merasakan perbedaan antara menyanyi di acara-acara nostalgia yang diadakan pada salah satu hotel high class di Cepu. Dengan pengalaman buruknya ketika menyanyi dangdut.

‘’Teringat ucapan salah satu player saat itu, untuk menjadi penyanyi berkelas dan elegan. Tidak menganggap bahwa uang adalah segalanya,’’ kata perempuan tinggal di Perumahan Bukit Banjarsari tersebut.

Seiring bertambahnya usia, prinsip untuk tidak menyanyi dangdut perlahan mulai luntur. Elin mulai memahami bahwa penting untuk masuk ke segala genre. Bahkan, saat ini juga telah menguasai berbagai genre lagu. Tidak perduli itu dangdut, pop, ataupun jazz.

Meski bukan dari latar belakang keluarga berdarah seni. Namun, besar harapan orang tua kepada Elin agar dapat menjadi artis. Bahkan, nama Tifany diberikan karena berharap sang anak dapat memiliki bakat seperti penyanyi Tifany. Harapan tersebut diijabah oleh Tuhan. Meski seluruh keluarga tidak bisa menyanyi, namun Elin memiliki bakat luar biasa di bidang tarik suara.

‘’Mamah sangat ingin aku menjadi artis ibu kota. Namun, seiring berjalannya waktu, bisa menerima meski hanya penyanyi lokal. Terpenting, tetap bisa meniti karir dengan lancar sebagai penyanyi,’’ tambahnya.

Elin pernah bergabung dengan home band garasi atau dikenal dengan Garasi Coustic. Kemudian, memutuskan untuk membuat grub musik sendiri bersama sang suami Suhendra Abdurrokhman atau kerap dikenal dengan Wagiman. Sosok suami yang juga sebagai pemain saxophone handal membuat kerja sama baik antarpasangan tersebut.

Bahkan, tak jarang grup musik yang diberi nama Lirih Music tersebut mendapat tawaran untuk tampil diberbagai acara besar di Bojonegoro hingga saat ini. Mulai dari acara pernikahan hingga acara besar di instansi atau lembaga. Bahkan, Lirih Music juga telah menjadi langganan di berbagai acara di Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Perempuan bertugas di Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Pemkab Bojonegoro tersebut berharap, bakat kesenian yang dimilikinya dan suami dapat menurun ke sang anak.

Namun, apapun nanti bakat sang anak, akan mendukung, memberikan fasilitas, termasuk menyekolahkan anak sesuai dengan bakat yang dimiliki.

‘’Biar bakat anak-anakku bermanfaat. Semoga bisa lebih hebat dari orang tuanya,’’ harap ibu dua anak tersebut. (*/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#grup band #suami #penyanyi #SMP #mocopat #vokal #cepu #pop #Banjarsari #pemkab bojonegoro #musik #bojonegoro #nostalgia #tarik suara #jazz