Palagan Clangap, pertempuran melawan Belanda yang merembet hingga Kecamatan Ngasem pada 1949 silam, masih teringat jelas di memori Mbah Sarimin. Pria berusia 95 tahun yang tinggal di Desa Jampet, Kecamatan Ngasem ini menjadi satu-satunya saksi sejarah yang tersisa.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro.
RUMAH di Dusun Sambirejo, Kecamatan Jampet Senin (1/7) lalu tampak lengang. Kediamannya yang tak terlihat dari jalan raya, dan harus dua kali jalan menyusuri gang kecil.
Membuat keberadaannya cukup sulit untuk ditemui. Namun, sosoknya yang ramah, tetap masih menampakkan semangat juang meski sedang menderita sakit. Dia adalah Mbah Sarimin.
Saksi sejarah peristiwa Palagan Clangap di Jalan Bojonegoro-Cepu pada Maret 1949, memang lebih banyak dikenal sebagai gugurnya pahlawan asal Bojonegoro yakni Agen Polisi (AP) I Rawi sebagai pemimpin pasukan.
Namun, di balik penghadangan pasukan Belanda di Desa Clangap, Kecamatan Kalitidu hingga merembet ke Desa Trenggulunan, Kecamatan Ngasem itu, tak banyak yang mengenal sosok Sarimin.
Pria yang tahun ini memasuki usia 95 tahun itu, menjadi veteran yang masih diberi umur panjang. ‘’Memang teman-teman (veteran) sudah tidak ada semua, dari 35 veteran di Kecamatan Ngasem tinggal tersisa saya.
Tapi kondisi memang sudah gak bisa jalan karena sudah sakit struk,”ungkap Sarimin memulai perbincangan, saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Pria kelahiran 1929 itu menceritakan, bahwa peristiwa Palagan Clangap yang merembet di Desa Trenggulunan, Kecamatan Ngasem 75 tahun lalu masih selalu diingatnya. Dirinya yang saat itu memasuki usia 18 tahun, dan tergabung dalam pasukan sabililah yang berasal dari kalangan santri, namun masih dalam komando polisi Mobil Brigade (Mobrig) yang dipimpin AP Rawi.
‘’Saat itu saya pulang setelah menghadang Belanda di Tuban, waktu pulang itu diajak oleh Pak Rawi (AP Rawi) menghadang Belanda yang mulai masuk ke Ngasem,” ungkap Mbah Sarimin. Menurutnya, meski rerata pasukan Belanda membawa senjata api, namun pasukannya yang juga dikomandoi oleh AP I Rawi sama sekali tidak gentar.
‘’Kami semua hanya bawa bambu runcing, yang bawa senjata api Pak Rawi sendiri,” bebernya. Saat peristiwa tersebut, AP I Rawi terdesak oleh pasukan Belanda, dan peristiwa gugurnya AP I Rawi di Desa Trenggulunan ditandai dengan adanya monumen tugu sebagai titik lokasi gugurnya sang pahlawan.
‘’Tapi makam Pak Rawi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Bojonegoro,” imbuhnya.
Meski beberapa kali mengunjungi makam tersebut, dan sudah diakui sebagai veteran. Namun, mengaku jika suatu saat meninggal, enggan dimakamkan di kompleksTMP. ‘’Kalau di dekat rumah, keluarga lebih mudah menjenguk,” tuturnya.
Berkat perjuangannya, sosok Mbah Sarimin atau Haji Muhaimin diakui sebagai veteran mulai 1981, setelah mempertahankan kemerdekaan pada 1948 dan 1949. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana