Berkembangnya usaha kuliner mendorong pelaku UMKM terus berinovasi. Adib Nurdiyanto memanfaatkan maraknya budidaya ikan lele di Bojonegoro dibuat sosis.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro.
Familiarnya ikan lele tak serta merta dipandang sederhana, justu kian maraknya budidaya ikan air tawar ini seolah menjadi peluang berinovasi.
Hal itulah yang terlihat dari kacamata Adib Nurdiyanto. Namun, ide uniknya dalam melihat potensi lokal itu bukan yang pertama kali.
Bahkan, pernah melakukan berbagai inovasi, mulai dari mengolah bunga bougenvile menjadi minuman, teh kemangi, gethuk oven, dan kerupuk kulit singkong.
Tak hanya itu, berbagai idenya juga dalam bidang kerajinan seperti pemanfaatan limbah untuk cat batik.
Beragam idenya itu, ternyata tak hanya pekerjaan iseng semata. Sebab, niatnya melakukan itu ternyata bermula dari nazar yang diucapkannya 7 tahun silam.
‘’Saya memulai inovasi sejak 2018, karena sudah menjadi nazar saya saat saya mengikuti tes pengisian perangkat desa oleh Pemkab Bojonegoro di tahun 2017,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Warga Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas ini Beruntung, dalam tes pengisian perangkat di desanya tersebut, dirinya berhasil lolos dan menjadi kasi kesejahteraan desasetempat.
‘’Nazar saya saat itu adalah jika saya diterima atau lolos menjadi perangkat desa, saya akan melahirkan banyak inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” kenang pria yang juga Dosen Istek Icsada itu.
Baca Juga: Akhmad Aries Tuansyah, Mantan Pemain Persibo: Pernah Bermain di Lima Era, Fokus Dampingi Usia Muda
Berawal dari itu, namanya kian dikenal sebagai pria ulet yang selalu banyak menciptakan ide yang bernilai ekonomi, khususnya bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Bojonegoro.
‘’Saya meyakini bahwa memberi manfaat tidak terbatas wilayah dan golongan,” imbuh pendiri komunitas Creative Economy Center (CEC) itu.
Sejak 2018 hingga saat ini, karya-karya Adib tak hanya diterima oleh masyarakat, namun juga terdapat berbagai penolakan.
Namun, pernah membuktikan sebagai penerima penghargaan Upakarti pada 2022 oleh Menteri Perindustrian dalam kategori jasa pengabdian, melalui pemberdayaan UMKM.
Menurutnya, berbagai penolakan dalam usaha menciptakan inovasi merupakan hal itu lumrah bagi pelaku usaha. Namun, selalu menekankan adanya niat baik dari yang dijalaninya. ‘’Bagi yang berkenan menerima ide saya, maka saya akan bantu dengan inovasi yang saya ciptakan. Artinya bagi yang mau menyambut baik niat saya saja,” tuturnya.
Salah satu ide yang sedang diciptakannya baru-baru ini adalah, menciptakan sosis daging ikan lele yang tidak amis dengan rasa yang tak kalah saing.
Banyaknya peternak lele di Bojonegoro dan harga yang sangat terjangkau per kilonya, membuat ikan ini sangat potensial menjadi bahan baku kuliner khas Bojonegoro
Kuliner ini diberi nama Soledag yang merupakan singkatan dari sosis lele daun anggur.
Menurutnya, sosis lele yang diberi bumbu dan dibungkus dengan daun anggur. ‘’Kuliner ini bisa dimakan langsung termasuk daun anggur yang membungkus sosis lele,” terangnya.
Namun, tak menampik masih adanya kekurangan, yakni belum mampu bertahan lama untuk dikonsumsi, karena sifatnya yang siap saji dan tidak menggunakan pengawet. Sementara konsumen menginginkan sosis lele yang bisa bertahan berbulan-bulan.
Dirinya pun tak segan untuk belajar tentang penggunaan pengawet makanan dengan tepat dan aman. (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari