Kekuarangan di penglihatan Nurul Harida Aini tak menghalanginya untuk tersu berkarya dengan menulis sekitar sepuluh buku.
DEWI SAFITRI, RADAR BOJONEGORO
UNTAIAN sajak tersusun indah menjadi bait puisi, rangkaian imajinasi terukir rapi dengan kata penuh makna. Mencipta beragam jenis karya sastra menggagumkan setiap diksinya. Tumpukan buku yang berhasil ditulis Nurul Harida Aini seolah membuktikan pada dunia. Bahwa kegelapan tidak menghentikan langkahnya untuk terus berkarya.
Nurul kehilangan penglihatan sejak berusia 30 tahun. Berawal dari mata kiri yang tidak bisa melihat separo. Diduga karena terjadi kerusakan pada saraf optiknya. Tidak diketahui secara pasti penyebabnya.
Namun, kemungkinan karena pernah terjatuh saat mengikuti kegiatan pecinta alam ketika mahasiswa. Juga, kebiasaan menghadap komputer selama 9 tahun bekerja di Dinas Pendidikan Bojonegoro.
‘’Saya tunanetra sejak usia 30 tahun karena sakit. Awalnya, saat bangun tidur mata kiri tidak bisa melihat separo. Kemudian, menjadi seperti ini (tunanetra),’’ ujarnya.
Syok hingga depresi sempat dirasakan oleh Nurul ketika menghadapi kenyataan telah kehilangan penglihatan. Khawatir akan kehidupan ke depan terus menghinggapi hari-harinya. Terlebih, mengingat ia merupakan seorang istri sekaligus ibu bagi keluarga kecilnya.
Kepasrahan takdir Tuhan membawa perempuan 53 tahun tersebut bangkit dari segala keterpurukan. Bentangan sajadah di sepertiga malam memberi petunjuk di tengah gelapnya dunia dalam pandangan. Seolah kekuatan dari Sang Pencipta, menemukan secerca harapan untuk terus melanjutkan langkah ke depan.
Dengan senyum yang melekat indah wujud kepasrahan atas takdir Tuhan, Nurul menceritakan, mendapati kondisi tersebut sang kakak menyarankan untuk limpah tugas menjadi seorang guru di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Begitupun dengan kata hatinya setelah meminta petunjuk dari Sang Kuasa. Sejak saat itu semangat belajar banyak hal baru seputar kehidupan tunanetra.
Termasuk, belajar beragam pelatihan agar dapat terus menjalankan kehidupan dengan mandiri meski keadaannya telah berbeda. Saat itu, juga memutuskan menjadi guru di SLB Negeri Kalirejo, Kecamatan Ngraho.
Meski dunia telah gelap dalam penglihatannya, namun hal tersebut tidak menghitamkan hidupnya. Bahkan, dengan segala keterbatasan, tetap melaksanakan hobi menulis yang sudah ada sejak duduk di bangku SMP.
Nurul aktif menulis setiap imajinasi yang bersarang di otaknya menjadi sebuah karya sastra. Bahkan, beberapa kisah dalam hidupnya juga turut menyumbang inspirasi tersendiri pada setiap tulisannya. Selalu memanfaatkan waktu luang di luar aktivitas mengajar untuk menulis.
Meski tidak bisa melihat, tidak menjadi penghalang baginya untuk menulis. Terlebih, sudah menghafal setiap huruf dan angka dalam keyboard laptopnya.
Sehingga, mempermudah dalam dunia kepenulisan di tengah segala keterbatasan. Selain itu, hp dan laptop juga telah di-setting khusus untuk pengguna tunanetra.
‘’Biasanya menulis ketika pulang dari mengajar dan di malam hari. Mengetik sendiri dengan sebelas jari,’’ ujar perempuan asal Desa Kalirejo, Kecamatan Ngraho tersebut.
Di tengah segala keterbatasan, Nurul sudah berhasil menulis sekitar 10 buku sejak 2019. Rerata buku yang diterbitkannya merupakan jenis karya sastra. Seperti, puisi dan kumpulan cerpen. Selain itu, ia juga telah membuat buku Iqra Braille yang dikhususkan untuk para penyandang tunanetra. Tidak hanya berbentuk buku, karyanya juga telah tersebar luas di platform online.
Dia juga aktif mengikuti beragam kompetisi kepenulisan. Tak jarang pula ia mendapat juara dari kompetisi yang diikuti. Baginya, segala pencapaian yang telah diraihnya saat ini tidak cukup. Ia ingin terus belajar banyak hal baru lainnya. Masih banyak rasa penasaran dalam dirinya yang harus dituntaskan dengan belajar hal baru.
‘’Manusia tidak sempurna, banyak kekurangan. Jadi, saya ingin terus belajar tanpa ada batasan,’’ pungkasnya. (*/msu)