Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Jadikan Eceng Gondok Bahan Kerajinan Tas, Lima Pelajar Terima Medali Perunggu ISIF 2023

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 19 Mei 2024 | 01:45 WIB
MANFAATKAN ECENG GONDONG: Zaviratus Azzahra dan Nanda Fitri Oktalia menunjukkan hasil karya tas berbahan eceng gondok. (ANJAR DWI PRADIPTA/RADAR BOJONEGORO)
MANFAATKAN ECENG GONDONG: Zaviratus Azzahra dan Nanda Fitri Oktalia menunjukkan hasil karya tas berbahan eceng gondok. (ANJAR DWI PRADIPTA/RADAR BOJONEGORO)

 

Eceng gondok banyak dijumpai di kali – kali di Lamongan. Di tangan lima pelajar SMA, tumbuhan tersebut dijadikan bahan kerajinan tas dan tempat tisu.


RIKA RATMAWATI, LAMONGAN


KREATIVITAS Zaviratus Azzahra, Nanda Fitri Oktalia, Diera Aulia Azzahra, Fransiska Septina Ardi, dan Neza Agnesiyah Uswatin, dalam memanfaatkan eceng gondok itu berbuah penghargaan. Mereka menerima medali perunggu dalam even Internasional Science and Invention Fair (ISIF) akhir tahun lalu.

Zaviratus mengatakan, ide pemanfaatan itu berawal dari diskusi kecil bersama teman kelompok. Eceng gondok diambil dari Dusun Glugu, Desa Dlanggu, Kecamatan Deket.

Zaviratus dkk ingin ada pemberdayaan masyarakat di desa tersebut dengan banyaknya eceng gondok. Pengerjaan produk mulai dari pengambilan enceng gondok hingga menjadi sebuah karya membutuhkan waktu sekitar dua bulan.

Zaviratus bersama Nanda menerangkan proses singkatnya. Batang eceng gondok yang dipilih minimal panjangnya 30 sentimeter (cm). Untuk menghilangkan kandungan air di batangnya, eceng gondok dikeringkan hingga 100 persen airnya hilang.

Jika pengeringan tidak sampai 100 persen, maka bisa ada jamur dan bau. Setelah itu, eceng gondok digiling untuk memastikan produknya halus dan berserat.

Langkah selanjutnya, menga nyam bahan tersebut menjadi kerajinan berbentuk tas dan tempat tisu. Proses pengerjaan itu dilakukan bersama warga setempat dengan didampingi guru pembimbing.

Produk tas dijual dengan harga Rp 60 ribu dan tempat tisu sekitar Rp 20 ribu, menyesuaikan ukuran. “Karena penelitian ini basic-nya pemberdayaan, jadi kerja kelompok ini dibantu oleh warga setempat,” ujar Nanda.

Menurut Nanda, warga sangat senang dengan kegiatan ini. Mereka memiliki kesibukan baru yang bisa menjadi sumber penghasilan.

Hingga kini, warga masih melayani pesanan. Bahkan, beberapa kali produk mereka ikut dipamerkan di kegiatan desa dan kecamatan.

Saat mengikuti ISIF, Zaviratus merasa dirinya dan teman – teman terkendala bahasa. Saat itu, proses pemaparan makalah menggunakan bahasa Inggris. Sementara jurinya dari India yang secara pelafalan bahasanya kurang dimengerti. “Saat ini kami sedang mempersiapkan untuk even berikutnya tingkat internasional juga, tapi masih mencari materi yang bahan bakunya mudah ditemui,” terang pelajar yang pernah meraih medali emas nasional dalam Pekan Sains dan Olimpiade Nasional 2024 itu. (*/yan)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pemberdayaan #Tisu #sma #lamongan #kerajinan #tas #enceng gondok