Tradisi Gumbregan di Desa Sumberarum, Kecamatan Ngraho Dipercaya Menangkal Hama Pertanian Petani di Desa Desa Sumberarum, Kecamatan Ngraho memertahankan tradisi Gumbregan dengan doa bersama dan sedekah lontong dan ketupat untuk keselamatan pertanian.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, BOJONEGORO
Hama tikus masih menjadi momok semua petani, termasuk di Desa Sumberarum, Kecamatan Ngraho. Beragam upaya sudah dilakukan petani untuk mengusir tikus selama 3 tahun terakhir, mulai dari menangkapnya manual dan melakukan pengasapan. Bahkan, petani memasang perangkap hingga memberi racun hama.
Namun, segerombolan tikus masih kerap menyerang tanaman warga, bahkan bisa menghancurkan lahan dalam semalam. Hal itu, menjadi pukulan berat bagi petani, karena hasil panen yang biasanya menghasilkan 4 ton, kini hanya menghasilkan kurang dari 2 ton, bahkan ada yang hanya mendapatkan beberapa karung.
Meski berbagai ikhtiar telah dijalankan, hama tikus seakan mengetuk hati petani dan warga, untuk menggelar doa bersama. Hingga pada Jumat Pahing (10/5) lalu, warga berinisiatif kembali menggelar tradisi gumbregan atau selametan di tengah pematang sawah, hal itu dipercaya mengusir hama dari sawah desa setempat.
‘’Karena kemarin masih ada wabah tikus menyerang padi di desa kami, dan keyakinan masyarakat kalau dilakukan gumbregan maka hama akan pergi,” ungkap Suryanto, tokoh masyarakat Desa Sumberarum, Kecamatan Ngraho.
Meski acara gumbregan sudah lama tidak digelar di desanya, namun tradisi tersebut kembali digelar pada Jumat Pahing pada penanggalan jawa.
Bahkan, tradisi gumbregan yang biasanya diikuti belasan warga, pada Jumat lalu lebih dari 100 warga yang datang, yang juga diresahkan akan hama tikus masih menyerang.
‘’Lebih dari 150 warga berdoa bersama, biasanya membuat lontong dan ketupat di pojokan sawah yang dipercaya bisa mengusir barang elek (hal buruk),” bebernya.
Namun, masyarakat di desa yang dilalui sungai Bengawan Solo itu tak hanya berusaha melalui ritual dan doa. Sebelumnya, warga juga telah melakukan berbagai upaya untuk mengusir tikus pergi dari area persawahan.
Meski, hal itu tidak kunjung membuahkan hasil, hama tikus pun masih menyerang kurang lebih tiga tahun terakhir dan kian membahayakan pertanian warga.
‘’Sudah dilakukan berbagai upaya oleh warga karena hama membuat produksi padi menurun. Mulai dari penggunaan obat pengusir tikus, penangkapan secara langsung, dan pengasapan dengan belerang. Sebelum akhirnya, digelar lagi tradisi gumbregan,” terangnya. (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari