Upaya Ciptakan Ruang Diskusi yang Sehat, Belasan Anak Muda Melimgkar di Kedai Kopi

Yuan Edo Ramadhana • Dipublikasikan Rabu, 20 Maret 2024 | 20:23 WIB
DISKUSI: Muhamad Baharudin Romadhoni bersama pegiat Buku Jenggala di salah satu warung kopi di Bojonegoro.
DISKUSI: Muhamad Baharudin Romadhoni bersama pegiat Buku Jenggala di salah satu warung kopi di Bojonegoro.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Belasan anak muda tampak melingkar di kedai kopi Jalan Pondok Pinang, Desa Sukorejo pada Minggu (17/3) sore.

Rak-rak buku tampak menghiasi sekelilingnya, namun hanya satu buku yang dibuka di atas meja. Benar saja, satu buku sedang dibedah dan didiskusikan bersama yakni buku ‘Seni Mencitai’ karya Erich Fromm.

Satu per satu yang hadir saling melempar tanya dan jawab, khususnya pada topik cinta secara universal,  dan bagaiaman cinta mampu membuat manusia menghargai satu sama lain.

‘’Sudah dua kali puasa ini, mengisi ngabuburit dengan tadarus buku,” ungkap Muhamad Baharudin Romadhoni, pegiat Buku Jenggala.

Namun menurutnya, kegiatan tersebut tidak berorientasi pada komunitas dan lebih terbuka untuk semua kalangan atau lapisan masyarakat.  Bahkan, pada kegiatan tadarus buku Minggu lalu, dihadiri oleh anak muda dari tingkat SMP, Kuliah, hingga umum.

Alumnus Teknik Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) itu menuturkan, tadarus buku yang digelar selama ini tidak juga membatasi pada satu idelogi dan ajaran tertentu.

Menurutnya, hal tersebut untuk menciptakan ruang diskusi yang sehat, sekaligus ruang apresiasi untuk setiap karya dan pengetahuan.

Bahkan, kegiatan tadurus buku tersebut tak hanya digelar secara offline saja, sebagian besar diskusi bahkan digelar online dan menghadirkan pembicara dari berbagai daerah.

‘’Kalau online rutin bahkan sampai 3 kali satu bulan. Sebab kalau online lebih beragam dari luar kota hingga kemarin dari Universitas Al-Azhar, Mesir,” ungkap pemuda asal Desa Wedi, Kecamatan Kapas itu.

Namun, melihat sebagian anak muda yang mengharapkan diskusi secara langsung atau offline. Ia kemudian menggelar tadarus buku di bulan Ramadan, dan rerata digelar di warung kopi untuk lebih dekat dengan masyarakat secara umum. Sebelum berada di Kecamatan Kota, ia menggelar diskusi di kedai kopi di Desa Wedi, Kecamatan Kapas.

Rudi juga menyadari belum meluas dan populernya ruang-ruang diskusi di Bojonegoro. ‘’Namun, tidak mungkin kalau harus putus asa, dan sepertinya harus mampu membuat ruang-ruang sendiri,” tegasnya.

Terbukti dengan gelaran bedah buku yang inisiasinya, kini sudah digelar 34 kali selama dua tahun terakhir.  (*/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
feature daerah Buku Anak Muda bojonegoro