Di Mesigit Jipang, legasi peradaban Islam abad 14 masih tersisa. Salah satu gerbang peradaban yang dibangun Syekh Jumadil Kubro, di tepian barat sungai Bengawan Solo.
LUKMAN HAKIM, Blora
LOKASINYA di tengah hamparan sawah yang jarang dijamah. Sebagian gundukan lahan dikeramatkan warga. Tepatnya, di area persawahan Desa Jipang, Kecamatan Cepu. Menuju lokasi mesigit, perlu menyusuri pematang sawah yang banyak dijumpai serpihan gerabah.
Tampak dari kejauhan, Mesigit atau Masjid Jipang berbeda dari hamparan sawah lainnya. Di sekeliling mesigit, pohon jati tumbuh subur bersama semak belukar. Terdapat gundukan menyimpan banyak pecahan bata yang dilihat dari strukturnya merupakan era Kerajaan Majapahit.
Jawa Pos Radar Bojonegoro datang ke Mesigit Jipang bersama enam orang. Satu di antaranya Totok Supriyanto, salah satu pemerhati sejarah Blora. Menurutnya, Mesigit Jipang bukan sekadar nomenklatur mitos yang berkembang di masyarakat Jipang.
Melainkan bukti peradaban yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebagai peradaban yang sudah ada, bahkan sebelum era Kesultanan Demak dan Arya Panangsang yang tersoshor di Jipang dan Situs Makam Gedong Ageng yang tak jauh dari lokasi mesigit.
’’Mesigit Jipang jadi bukti ilmiah peradaban Islam era Majapahit, seperti yang didawuhkan Gus Dur,” ujarnya.
Gus Dur Menulis dalam buku The Passing Over, tempat ini (Mesigit Jipang, Red) melengkapi posisi Mesigit Tebon (Bojonegoro) sebagai sepasang gerbang yang dibangun Mbah Jumadil Kubro.
Sebagai prototipe toleransi umat beragama, Hindu-Islam. Kedua mesigit tersebut saat ini terbentang di antara sungai Bengawan Solo. Berposisi sejajar antara timur (Mesigit Tebon-Bojonegoro) dan barat (Mesigit Jipang -Blora).
Selain tulisan Gus Dur, yang menguatkan Mesigit Jipang adalah peradaban lampau yang secara kebudayaan masyarakat telah tertata dan terjalin harmonis. Bahwa, pada era Kerajaan Majapahit, Jipang dinobatkan sebagai wilayah perdikan, yang bebas dari pajak.
’’Jipang menjadi titik naditira pradeca, yang tertulis dalam Prasasti Canggu sebagai wilayah perdikan. Bukti bahwa Jipang adalah wilayah yang disegani,” ungkap penulis Buku Lwaram tersebut. Selain Prasasti Canggu (1358 M), wilayah Jipang juga tercatat di Prasasti Pucangan (1041 M), Prasasti Maribong (1264 M).
Hal itu menjadi bukti, bahwa kawasan Jipang semula pusat peradaban Hindu-Budha. Namun, pada era dakwah Mbah Jumadil Kubro, kawasan itu jadi pusat peradaban Islam. Bukti lain menurut Totok, di era ketika Erlangga (Kahuripan), Wisnuwardhana, juga Tribuwana turut memberkati tanah Jipang sebagai tanah para Brahmana; tempat suaka bagi para pengembara.
Khazanah penyatuan yang terhimpun pada Benawa Sekar (Kakawin) di akhir kejayaan Majapahit. Atau lebih dirasa sebagai “suaka perahu” yang diperkenalkan kembali oleh Ulama Gresik dan Surabaya di Bengawan untuk akhirnya bersandar kali pertama di Jipang. ’’Di sinilah awal Mesigit Jipang dibangun periode 1300-an masehi, sebagai tempat perlindungan,” ujarnya. (*/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana