BLORA, Radar Bojonegoro - Kiai Usman Cepu merupakan tokoh kunci perkembangan agama, pendidikan hingga organisasi Islam di Cepu. Kiprahnya pada zaman kolonial Belanda hingga awal kemerdekaan masih terpatri di Pondok Pesantren (Ponpes) Assalam yang didirikan pada 1917.
Pada periode awal dakwahnya, Kiai Usaman menggemakan majelis taklim yang diikuti masyarakat sekitar Gang III Cepu. Kiai Anief salah satu cucu menceritakan, Kiai Usman mendapat restu dari mertua yakni, Kiai Hasyim Jalakan Padangan untuk berdakwah di Cepu.
Dengan tekad kuat untuk berdakwah, Kiai usman berhasil mendirikan Ponpes Assalam. Dahulu disebut sebagai Madrosatus Salam. Sebagai tempat menggembleng para santri untuk memperoleh ilmu agama Islam.
’’Pondok ini menjadi tempat dakwah, ngaji, dan mengajar. Dilakukan secara rutin oleh kakek (Kiai Usman),” ujarnya.
Pondok yang dahulu terbuat dari papan kayu dan geladak sebagai lantainya itu menjadi saksi bisu perjalanan Kiai Usman menyiarkan ajaran Islam. Di tengah masyarakat perkotaan heterogen, Kiai Usman cakap dalam metode dakwah. Sehingga, diterima dengan baik oleh masyarakat.
’’Untuk saat ini, bangunan pondok sudah mengalami renovasi, dahulu geladak berlantai dua,” katanya.
Kiai Usman juga dapat mengubah wajah tempat yang dulu digunkaan sebagai tembat lokalisasi prostitusi menjadi tempat jujugan ilmu agama Islam. Kiprah Kiai Usman di Cepu tercatat salah satunya pada artikel koran Belanda diterbitkan De Locomotif pada 1934.
Dalam surat kabar itu, mengabarkan Nahdlatul Ulama (NU) telah menyusun rencana untuk menyelenggarakan Gerebek Maulid. Kiai Haji Usman akan memberikan ceramah tentang kehidupan nabi di halaman masjid.
Kiai Usman juga terkenal sebagai kiai organisatoris. Serta, menjadi pelopor dalam gerakan ormas Islam. Yakni, sebagai pendiri NU cabang Cepu. Sosok Kiai Usman sebagai pencetus NU cabang pertama itu telah dikonfirmasi tokoh-tokoh PBNU dalam berbagai majelis. Hal itu juga diperkuat eterangan Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) Rembang.
’’Gus Mus pernah ngendikan, bahwa Cepu merupakan cabang istimewa NU sebelum undang-undang keormasan,” tambahnya.
Kiai Usman disebut juga merupakan Ketua Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) di Cepu. Hal itu digali dari pengakuan para santri yang pernah menimba ilmu kepada Kiai Usman. Kiprahnya di organisasi cukup besar, hingga Kiai Usman disegani. Baik lawan maupun kawan.
Bahkan, pada saat Jepang hendak meninggalkan Indonesia, sempat memasrahkan aset migas kepada Kiai Usman. ’’Saya pernah dapat cerita dari bapak, Mbah Usman dulu dipasrahi kelola migas di Cepu, kemudian diserahkan Mbah Usman kepada pemerintah Indonesia,” ujarnya sambil mengingat-ingat.
Tercatat juga dalam koran De Locomotif berjudul De Islam Vereenigingen pada 1939, geliat kegiatan agama Islam di Cepu mulai mendapatkan tempatnya. Kota mandiri Cepu yang dibawah kendali B.P.M mencoba memetakan wilayah dan mulai memperhatikan kegiatan keagamaan masyarakat Cepu.
Ceramah tentang agama terorganisir. Khususnya, di kalangan intelektual. Selain olahraga, kehidupan rohani (agama) yang sehat sangat dibutuhkan. Mengikuti contoh baik dari tempat lain, di mana departemen telah dibentuk dari anggota yang didelegasikan den Volksraad. (luk/bgs)
Terlibat Penandatanganan Resolusi Jihad
KIAI Usman menjadi delegasi Cepu yang turut menandatangani Resolusi Jihad yang digelorakan Kiai Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Bersama dengan kiai-kiai karismatik daerah lain, menyatakan perlawanan tentara NICA yang ingin merebut kembali wilayah Indonesia.
Ahmad Dahlan salah satu santri Ponpes Assalam, murid dari putra Kiai Usman mengatakan, ia sempat melakukan penelusuran sejarah Mbah Usman. Bukti keterlibatan Kiai Usman dalam penandatanganan Resolusi Jihad itu tercatat dalam dokumen PBNU.
’’Assalam ini salah satu yang ditunjuk dan didahulukan agenda halaqoh NU. Dengan landasan, Kiai Usman menjadi salah satu kiai yang menandatangi Resolusi Jihad,” terangnya.
Tak hanya membubuhkan tandatangan, Kiai Usman juga turut turun di gelanggang perlawanan dengan mengirimkan santri-santrinya ke Surabanya. Kiai Anief menceritakan, pada saat itu para santri berangkat menggunakan kereta uap dagang. Bergabung dalam pasukan Hizbullah dan Sabillah.
’’Mbah Usman kirimkan santri untuk ikut berperang di Surabaya melawan penjajah, itu cerita yang saya dapatkan,” katanya
Perjuangan Kiai Usman tak hanya terlibat dalam usaha mengusir tentara NICA di Surabaya, peristiwa 10 November 1945. Pada 1948 terjadi peristiwa Agresi Militer Belanda II di Cepu juga mengharuskan Kiai Usman dan keluarga mengungsi.
’’Nenek (istri Kiai Usman) sering cerita kalau dahulu sering mendapat ancaman. Sehingga, mengungsi di Jeruk dekat Ngloram juga di Ngawi,” timpalnya.
Dalam misi sembunyi dari teror dan pencarian musuh tersebut, keluarga Kiai Usman menggunakan delman sebagai alat transportasi. Serta, membawa barang kebutuhan pokok seperti beras. Pada waktu itu pengajaran di madrasah dan Ponpes Assalam vakum selama satu tahun. Penutupan madrasah tersebut tercatat dalam dokumen yang dimiliki Ponpes Assalam. (luk/bgs)
Mukti Ali hingga L.B Benny Moerdani Pernah Belajar
PONDOK Pesantren (Ponpes) Assalam Cepu menjadi magnet pendidikan di kawasan Cepu saat diasuh Kiai Usman. Tercatat Menteri Agama 1971 yakni, Mukti Ali hingga tokoh militer orde baru (orba) L.B Benny Moerdani saat kecilnya pernah menimba ilmu kepada Kiai Usman.
Di dalam buku biografi Mukti Ali menjabarkan, bahwa setelah menyelesaikan pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan mendapat sertifikat pegawai pemerintah Belanda (Klein Ambtenar Examen), Mukti Ali melanjutkan belajar Alquran kepada Kiai Usman.
Di bawah asuhan Kiai Usman yang terkenal tegas, Mukti Ali belajar membaca Alquran dengan fasih dan tartil menurut kaidah ilmu tajwid. ’’Mukti Ali dulunya kan rumahnya Balun Saudagaran. Tak jauh dari pondok, dulu juga pernah mondok di Assalam,” ujar Kiai Anief Usman.
Kiai Usman dideskripsikan dalam buku biografi Mukti Ali, merupakan salah seorang murid Kiai Usman. Biasanya selepas Subuh, Kiai Usman mengajar Alquran. Khususnya, surat Alfatihah. Dua muridnya duduk di sisi kanan dan kirinya. Sedang, Kiai Usman di tengah memegang rotan.
Selain Mukti Ali, tokoh militer era orba L.B Benny Moerdani diketahui pernah menimba ilmu di Ponpes Assalam. Cerita itu didapat Anief dari biografi Benny Moerdani dan keterangan dari Gus Mus (Mustofa Bisri) yang diperoleh dari Gus Rofi Usman.
’’Saya ketika mendapat cerita itu juga sempat kaget. Karena memang baru dapat informasi ini,” ucap Anief.
Padahal, pada saat itu L.B Benny Moerdani berlatar belakang keluarga beragama Kristen. Tapi, dari lokasi rumah masa kecil Benny Moerdani dengan pondok juga cukup dekat. Hanya berjarak gang.
Hal itu meyakinkan Anief, bahwa selain anak-anak beragama Islam, anak-anak non-Islam juga ikut belajar kepada Kiai Usman.
Banyak tokoh yang dilahirkan dari gemblengan Kiai Usman. Ahmad Dahlan salah satu santri Ponpes Assalam mengatakan, bahwa sosok Kiai Usman selain organisatoris, juga seorang intelektual Islam yang merakyat dan fasih dalam beberapa cabang ilmu. Salah satunya, tafsir.
Ditengarai, Kiai Usman pernah membuat karya tulis berupa kitab Tafsir Alquran. Namun, hingga kini masih dicari keberadaannya. ’’Ditugasi mencari itu (kitab tafsir). Karena sekelas Mbah Usman seharusnya punya karya tulis. Yang baru ditemukan tulisan kumpulan doa-doa dari kiai-kiai yang ditulis Mbah Usman,” katanya. (luk/bgs)
Tiap Pagi Keliling Pasar, Membeli Tanpa Menawar
KEBIASAAN unik Kiai Usman saat mengasuh Ponpes Assalam Cepu yakni, setiap pagi usai salat Subuh mengajak santrinya keliling beli dagangan para pedagang di pasar. Saat membeli, Kiai Usman tidak pernah menawar harga.
’’Salah satu riyadhoh Mbah Usman itu dulu punya kebiasaan setiap pagi mengajak santri keliling belanja di sekitar Pasar Cepu,” ucap Ahmad Dahlan santri ponpes Assalam berusia sekitar 47 tahun tersebut.
Kiai Usman tidak pilah-pilih dalam membeli. Semua jualan pedagang dibeli rata satu per satu. Uniknya lagi, Kiai Usman tidak pernah menawar harga. Setelah barang belanjaan terkumpul, kemudian sampai di pondok, para santri disuruh membagikan kepada orang-orang kampung.
’’Mbah Usman itu orangnya dermawan, terus ndak pilih-pilih orang, terbuka, juga tidak memilih golongan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kalau pun menawar harga, Kiai Usman hanya sebagai proses penerapan khiyar (hak meneruskan atau membatalkan akad jual beli). Jika tidak boleh kurang, maka tetap dibeli. Menurutnya, kondisi finansial kiai zaman dahulu terpenuhi dan rerata punya kekayaan.
Sehingga, tidak mengharap imbalan saat berdakwah. Hal itulah yang harus diteladani oleh para santri saat ini. Pengasuh Ponpes Assalam Cepu Kiai Anief mengatakan, pada momen haul yang ke-68 Sabtu (23/12).
Sosok Kiai Usman menjadi teladan berdakwah dengan tetap menghormati keberagaman. Melihat konteks pada waktu tersebut, Cepu cukup heterogen banyak orang eropa, pecinan, dan berbagai agama. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana