Menjadi mekanik motor listrik bagi Priyo Winarno sebenarnya bukan sebuah cita-cita. Berawal dari menolong tetangga, dengan modal belajar otodidak, akhirnya banyak warga yang membutuhkan jasanya.
Rangkaian komponen kelistrikan berjejer di samping salah satu rumah di Gang Amal, Desa Sukorejo, Kecamatan Kota. Seorang pria tampak serius mengamati dan merangkai beberapa komponen motor listrik.
Dia adalah Priyo Winarno, menekuni menjadi mekanik motor listrik sekitar 20 tahun. Namun, baru dua tahun terakhir ini merasakan dampak dari populernya motor listrik.
Bahkan, jumlah motor yang diperbaikinya meningkat lebih dari 100 persen, dari tahun sebelumnya. ‘’Normalnya satu bulan rata-rata hanya 10 unit, namun setahun terakhir sampai 30 unit per bulan,’’ tuturnya sambil merangkai komponen di bengkelnya.
Priyo menceritakan, awal mula belajar secara otodidak bermodalkan ilmu elektronik saat sekolah. Meski pada Tahun 2000 lalu masih jarang warga yang memiliki motor listrik.
Namun, saat itu berkeyakinan bahwa kendaraan yang diklaim ramah lingkungan itu kelak populer. ‘’Awalnya memperbaiki milik tetangga, namun keterusan sampai saat ini,” ungkapnya sambil senyum.
Tak hanya itu, selama lebih dari 20 tahun terakhir. Ternyata masih jarang adanya tempat servis motor listrik di Bojonegoro.
Bahkan, hanya ada satu servis yakni miliknya. Karena rerata diler sepeda, harus dikirim dulu ke Surabaya untuk servis.
Karena itu, ia juga rutin mengedukasi pengguna motor listrik. ‘’Rerata motor listrik belum punya waterproof (anti air), dan penyebab kerusakan paling umum karena dicuci seperti sepeda biasa,” ungkapnya.
Pria asal Desa Sukorejo menambahkan, bengkelnya semakin banyak permintaan. Mulai dari dalam dan luar kota, dan provinsi, yang dikirim untuk diperbaiki. Namun, merasakan paling banyak perbaikan motor lsitrik saat banjir melanda Bojonegoro pada 2007 silam. ‘’Tepat setelah banjir dulu, lebih dari 200 motor listrik yang saya perbaiki,” pungkasnya. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana