Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Semangat Merantau Bukti Gajah Mada Asli Lamongan

Khorij Zaenal Asrori • Kamis, 6 Juli 2023 | 18:13 WIB

Bachtiar Febrianto, Direktur Radar Bojonegoro (ISTIMEWA FOR RDR.BJN)
Bachtiar Febrianto, Direktur Radar Bojonegoro (ISTIMEWA FOR RDR.BJN)

Oleh: Bachtiar Febrianto, Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro

SARASEHAN Sejarah Gajah Mada, Kebangkitan Nusantara dari Bumi Lamongan yang digelar di Pendapa Lokatantra Pemkab Lamongan, Selasa (4/7) lalu sangatlah menarik. Sarasehan tersebut ingin meyakinkan bahwa Gajah Mada yang merupakan Mahapatih dari kerajaan terbesar di Indonesia yakni Majapahit, berasal dari Lamongan. Meski bukti yang ada belum kuat benar. Baru berupa folklore atau cerita rakyat yang didukung dengan situs makam Gunung Ratu di Dusun Cancing, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, yang diyakini sebagai makam ibunda Gajah Mada yang bernama Nyai Dewi Andongsari.

Meski bukti-bukti sejarah secara ilmiah, seperti prasasti, belum ada yang mendukung, upaya serius Pemkab Lamongan untuk meneguhkan Gajah Mada sebagai putra LA (Lamongan Asli) patut diacungi jempol. Tidak hanya sekadar meyakinkan bahwa makam Ibu Gajah Mada ada di Gunung Ratu. Tapi lebih daripada itu, nama Mahapatih Gajah Mada akan menjadi sumber inspirasi yang sangat luar biasa bagi masyarakat maupun Pemkab Lamongan.

Sumber inspirasi yang paling penting  adalah pada perjalanan hidup Gajah Mada. Bagaimana seorang Gajah Mada kecil bernama Joko Modo, yang berasal dari Desa Modo, sebuah desa terpencil di Lamongan, berhasil mengukir prestasi dari bawah hingga melejit menjadi seorang Mahapatih kerajaan besar pemersatu Nusantara, setelah merantau ke kota. Tentu itu sebuah perjalanan karier yang tidak mudah. Dibutuhkan kerja keras, kesabaran, keuletan, dan keberanian yang luar biasa.

Mental dan semangat hidup yang luar biasa dari Gajah Mada tersebut sama dengan yang dimiliki masyarakat Lamongan. Dibuktikan dengan banyaknya orang Lamongan yang sukses di perantauan, meski dengan berjualan Soto Lamongan, Tahu Campur, maupun Pecel Lele. Tidaklah mudah seseorang mengawali hidup di daerah perantauan. Namun dengan mental dan semangat luar biasa, wong Lamongan rata-rata sukses di luar daerah. Mental dan semangat merantau yang sama antara Gajah Mada dan wong Lamongan tersebut bisa jadi menjadi bukti bahwa Gajah Mada memang benar-benar asli Lamongan.

Merekonstruksi kejayaan Lamongan masa lampau, terutama terkait Mahapatih Gajah Mada, tentu tidak sekadar merehab makam Nyi Andong Sari. Lebih daripada itu adalah dengan menanamkan inspirasi kebesaran Gajah Mada pada masyarakat Lamongan, khususnya kalangan generasi muda. Gajah Mada harus bisa menjadi Pahlawan dan kebanggaan bagi mereka yang patut diteladani. Untuk mewujudkan itu, selain melalui sarasehan, diskusi atau seminar, lebih strategis lagi dilakukan melalui pendidikan. Berbagai kejayaan Lamongan masa lalu, termasuk terkait Gajah Mada, ditulis dalam sebuah buku selanjutnya dijadikan sebuah kurikulum muatan lokal di lembaga pendidikan, mulai tingkat TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, bahkan bila perlu hingga perguruan tinggi. Dengan strategi seperti itu, rasa nasionalisme masyarakat Lamongan pada daerahnya akan semakin tinggi. Dengan kata lain, upaya merekonstruksi kejayaan Lamongan masa lalu untuk mewujudkan kejayaan Lamongan saat ini akan lebih mudah terwujud. Insya Allah. (*)

Editor : M. Yusuf Purwanto
#bupati yes #majapahit #lamongan #gajah mada #ratu