RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Mungkin masyarakat umum yang sering berbelanja di mall, menginap di hotel atau memasuki gedung-gedung besar di Indonesia punya pertanyaan yang serupa: Kenapa tidak ada lantai empat? Atau kenapa angka empat dilompati di lift?
Terkadang bangunan direncanakan sedemikian rupa sehingga susunan lantai tersusun menjadi LG-UG-1-2-3, atau G-1-2-3-3A-5, atau bahkan 1-2-2A-3-3A dan semacamnya. Bahkan ada yang tidak ambil pusing dan langsung melompati angka 4 sehingga susunan lantai terbaca 1-2-3-5-6-7 dan seterusnya.
Nah, perbuatan dan perencanan tersebut berakar dari mitos khas Asia Timur dan wilayah Sinosfer. Dipercaya, angka 4 membawa sial karena mengandung huruf yang berarti atau berbunyi serupa dengan kata 'mati' atau 'kematian'.
Misal dalam bahasa Mandarin, angka empat (四) dibaca "sì", sama seperti kata 'mati' (死) yang juga dibaca "si". Karena mayoritas bahasa Jepang berakar dari bahasa Mandarin termasuk abjadnya, efek tersebut menular juga ke bahasa milik Negeri Sakura tersebut.
Dalam bahas Jepang, angka empat (四) dibaca "shi". Kata 'mati' (死) juga dibaca "shi", dan membentuk dasar dari kata 'meninggal' dalam bahasa tersebut (死ぬ, dibaca "shine").
Nah, dalam bahasa Korea, angka empat (사) dibaca "sa", dan bisa juga berarti 'membeli' atau 'orang'. Namun huruf tersebut juga membentuk komponen dasar dari kata "samang" (사망), yang berarti 'meninggal' atau 'sekarat'.
Fenomena ini lama terkenal di kalangan peneliti sebagai 'tetraphobia', yakni takut angka empat. Terkadang tidak hanya angka empat saja, angka berakhiran empat seperti 14, 24, 34 dan seterusnya juga dihindari.
Dalam praktek sehari-hari, masyarakat di negara-negara tersebut, serta keturunan Tionghoa di Asia Tenggara sebisa mungkin menghindari angka empat dalam perencanaan mereka. Misal seperti yang dicontohkan, lantai gedung diganti namanya menjadi 3A, F, dilompati langsung ke lima atau dirancang agar berakhir di lantai 3.
Di luar negeri, praktek ini selalu dilakukan di rumah sakit dan fasilitas kesehatan serupa. Karena tentu tidak lucu jika pasien ditaruh di lantai empat dan mereka menuduh mereka bakal segera meninggal.
Di luar hal tersebut, biasanya mereka menghindari plat nomer dengan angka empat, menghindari jumlah uang dengan angka empat di dalamnya, tidak mengeluarkan produk dengan angka empat di namanya, dan masih banyak lagi.
Bahkan sebagian pemilik usaha dan bangunan mengkombinasikan mitos ini dengan mitos angka 13, yang juga dipercaya membawa sial menurut mitos Norwegia dan Kristiani. Sehingga sebuah gedung dapat memiliki label lantai 1-2-3-5-6-7-8-9-10-11-12-15-16 dan seterusnya.
Namun tentu, namanya juga mitos, hal tersebut dan hal klenik serupa tidak perlu dipercaya secara berlebihan. Sebagian pengusaha juga tidak mempercayai mitos tersebut dan tetap memasang label lantai empat pada bangunan mereka. Meskipun demikian, mitos tersebut merupakan bagian dari budaya yang menarik untuk dipelajari. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana