RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar pada era 2000-an mungkin masih ingat serunya membawa mobil Tamiya ke sekolah, berkumpul di tempat penyewaan lintasan, atau beradu kecepatan dengan teman sebaya. Bagi sebagian anak, kegemaran itu bermula dari tontonan yang menghadirkan dunia balapan mini dengan mobil-mobil berdesain unik.
Kartun dan anime pada masa itu tidak hanya menjadi hiburan sepulang sekolah. Sejumlah tayangan juga memperkenalkan permainan, olahraga, hingga aktivitas koleksi yang kemudian populer di kalangan anak-anak. Dari merakit mobil balap sampai mengoleksi kartu, karakter di layar kaca kerap menjadi inspirasi untuk mencoba hobi baru.
Baca Juga: 7 Anime Jepang Favorit Anak SD Era 2000-an, dari Doraemon hingga Detective Conan
Berikut lima kartun dan anime yang lekat dengan tren hobi anak-anak pada era tersebut.
1. Let's & Go!!, Pemicu Demam Tamiya
Bicara tentang demam Tamiya, anime Bakusō Kyōdai Let's & Go!! atau yang lebih dikenal sebagai Let's & Go!! sulit dilewatkan. Serial ini mengikuti petualangan kakak beradik Retsu dan Go Seiba yang mengembangkan kemampuan mereka dalam dunia balap Mini 4WD.
Mobil balap mini dalam serial tersebut memiliki desain khas, mulai dari bentuk bodi hingga kombinasi warna yang mencolok. Setiap balapan juga menghadirkan persaingan dan tantangan yang membuat penonton ikut penasaran dengan kemampuan mobil para tokohnya.
Di luar layar, kegemaran itu terasa dekat dengan kehidupan anak-anak. Mereka mulai mengenal mobil Mini 4WD, tertarik merakit atau memodifikasi komponen, hingga mencoba mengadu kecepatan di lintasan.
Tamiya pun menjadi bagian dari kenangan masa kecil yang tidak hanya berkaitan dengan menonton televisi, tetapi juga aktivitas bersama teman-teman.
Baca Juga: 7 Kartun yang Menemani Masa SD Generasi Milenial, Bikin Kangen Era 2000-an
2. Beyblade, Serunya Adu Gasing dengan Jurus Andalan
Selain mobil balap mini, Beyblade menjadi salah satu permainan yang identik dengan masa kecil generasi 2000-an. Anime Beyblade memperkenalkan pertarungan menggunakan gasing modern yang diluncurkan ke arena.
Daya tariknya bukan hanya terletak pada gasing yang berputar, melainkan juga karakter dengan gaya bertarung dan jurus khas. Pertarungan di layar kaca membuat permainan sederhana terasa seperti kompetisi besar.
Anak-anak kemudian mengenal berbagai bentuk dan tipe Beyblade. Sebagian tertarik mengoleksi, membandingkan kemampuan, atau mengadu gasing dengan teman sebaya.
Seperti tren Tamiya, Beyblade memperlihatkan bagaimana sebuah tontonan dapat memberi nilai tambah pada permainan. Anak-anak tidak hanya memainkan benda yang mereka miliki, tetapi juga membangun cerita dan persaingan sendiri.
3. Pokémon, dari Menonton Petualangan hingga Mengoleksi Kartu
Anime Pokémon menghadirkan petualangan Ash Ketchum bersama Pikachu dan berbagai Pokémon yang ditemuinya. Setiap karakter memiliki bentuk, kemampuan, serta ciri khas yang mudah dikenali.
Baca Juga: Ajak Anak Jalan-Jalan hingga Bermain Bersama, Cara Sederhana Ayah Menciptakan Kenangan Berharga
Dunia Pokémon juga berkembang menjadi permainan dan barang koleksi. Kartu Pokémon, misalnya, memungkinkan penggemar mengenal karakter sekaligus membandingkan kemampuan yang tercantum di dalamnya.
Bagi anak-anak, mengoleksi kartu dapat menjadi aktivitas tersendiri. Mereka bisa bertukar kartu dengan teman, mencari karakter favorit, atau menyimpan koleksi yang dianggap istimewa.
Namun, tren kartu Pokémon tidak selalu berlangsung seragam di setiap sekolah atau daerah. Pengaruhnya bergantung pada akses terhadap kartu, permainan, dan tayangan yang dikenal anak-anak saat itu.
4. Crush Gear Turbo, Mobil Tempur yang Punya Penggemar Sendiri
Jika Let's & Go!! identik dengan balap mobil Mini 4WD, Crush Gear Turbo menawarkan konsep kendaraan mini yang saling berhadapan dalam arena pertarungan.
Serial ini mengikuti Kouya Marino dan kendaraan Crush Gear miliknya. Pertarungan berlangsung dengan strategi, bentuk kendaraan, serta kemampuan khusus yang membuat setiap pertandingan terasa berbeda.
Konsep tersebut menarik bagi anak-anak yang menyukai kendaraan mini dan kompetisi. Mereka dapat membayangkan pertarungan seperti yang ditampilkan di layar kaca, sekaligus tertarik pada bentuk kendaraan yang digunakan para karakter.
Meski tidak semua penonton kemudian memiliki mainan Crush Gear, serial ini menjadi bagian dari gelombang tontonan yang mempertemukan dunia animasi dengan tren mainan bertema kompetisi.
5. Yu-Gi-Oh!, Duel Kartu yang Terasa Seperti Pertarungan Besar
Anime Yu-Gi-Oh! membawa permainan kartu ke dalam cerita penuh strategi. Tokoh utamanya, Yugi Mutou, dikenal melalui duel yang melibatkan kartu monster, mantra, dan jebakan.
Di layar, kartu bukan hanya benda koleksi. Setiap kartu memiliki fungsi dalam strategi duel, sehingga penonton diajak mengikuti bagaimana pemain menyusun kombinasi untuk mengalahkan lawan.
Konsep itu membuat permainan kartu terasa lebih menarik bagi penggemar. Mereka bisa mengenal karakter monster, membicarakan kartu favorit, atau tertarik mencoba permainan kartu yang berkaitan dengan serial tersebut.
Seperti tren hobi lainnya, popularitas Yu-Gi-Oh! tidak berarti semua anak pada masa itu ikut bermain. Namun, serial ini menunjukkan bagaimana cerita animasi dapat memperkenalkan permainan dengan aturan dan strategi yang lebih kompleks.
Baca Juga: Ingin Jajan ala Anime dan Drakor? Coba Resep Taiyaki dan Bungeoppang Ini
Kartun dan Anime yang Menjadi Bagian dari Kenangan Masa Kecil
Demam Tamiya dan berbagai tren permainan pada era 2000-an memperlihatkan hubungan erat antara tontonan dan aktivitas anak-anak. Karakter yang mereka lihat di televisi dapat menjadi inspirasi untuk mencoba permainan, mengumpulkan benda tertentu, atau membangun keseruan bersama teman.
Meski pengaruh setiap serial berbeda-beda, pengalaman tersebut membuat kartun dan anime masa kecil terasa lebih dari sekadar hiburan. Ada permainan yang dimainkan sepulang sekolah, koleksi yang dibanggakan, serta cerita yang terus dikenang ketika beranjak dewasa.
Bagi generasi yang tumbuh pada era itu, nama seperti Let's & Go!!, Beyblade, dan Pokémon mungkin langsung mengingatkan pada masa ketika hobi baru bisa bermula dari satu tayangan televisi. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari