RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bagi generasi milenial yang menghabiskan masa sekolah dasar pada era 2000-an, menonton kartun di televisi menjadi salah satu hiburan yang sulit dilupakan. Sebelum YouTube dan layanan streaming mudah diakses, mengikuti petualangan karakter animasi favorit memiliki keseruannya sendiri.
Ada yang mengenal Doraemon lewat alat-alat ajaibnya, tertawa melihat tingkah Shinchan, hingga membayangkan memiliki mobil balap mini seperti dalam Let's & Go!!. Sejumlah animasi bahkan melahirkan tren permainan yang terbawa ke lingkungan sekolah dan tempat bermain.
Kini, ketika banyak tayangan bisa ditonton kapan saja, kartun-kartun tersebut menyimpan kenangan tentang masa kecil yang lebih sederhana. Berikut tujuh animasi yang layak membawa kembali nostalgia anak SD era 2000-an.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Film Terbaik di Tahun 2026, Ada Sci-Fi, Animasi hingga Horor
1. Doraemon, Robot Kucing dengan Segudang Alat Ajaib
Doraemon menjadi salah satu karakter animasi yang paling mudah dikenali oleh penonton Indonesia. Serial ini menceritakan robot kucing dari abad ke-22 yang dikirim untuk membantu Nobita Nobi, anak sekolah yang sering mengalami kesulitan dalam pelajaran maupun kehidupan sehari-hari.
Doraemon memiliki kantong ajaib yang menyimpan berbagai alat canggih. Pintu ke Mana Saja, Baling-Baling Bambu, dan Mesin Waktu menjadi beberapa benda yang paling ikonik.
Daya tariknya bukan hanya terletak pada teknologi ajaib tersebut. Hubungan Doraemon dan Nobita juga menghadirkan cerita tentang persahabatan, keberanian, dan konsekuensi dari setiap pilihan. Tak heran jika membayangkan memiliki kantong ajaib sendiri menjadi salah satu khayalan yang terasa akrab bagi penggemarnya.
Baca Juga: Membedah Formula Bercerita Ala Short Dracin yang Bikin Penonton Penasaran
2. Crayon Shinchan, Bocah Jahil yang Selalu Bikin Ulah
Kalau Doraemon dikenal lewat alat ajaibnya, Crayon Shinchan justru melekat karena tingkah jahil tokoh utamanya. Shinchan adalah bocah berusia lima tahun yang tinggal bersama keluarganya di Jepang.
Ia sering membuat orang tuanya, Hiroshi dan Misae, kewalahan dengan perilaku spontan serta komentar-komentarnya yang tidak terduga. Situasi sederhana di rumah maupun sekolah bisa berubah menjadi kejadian kocak gara-gara ulah Shinchan.
Gaya humornya membuat serial ini berbeda dari kartun anak-anak pada umumnya. Bagi penonton yang mengenalnya sejak kecil, nama Shinchan sering kali langsung mengingatkan pada tingkah konyol, tarian khas, dan ekspresi wajahnya yang sulit dilupakan.
3. Ninja Hattori, Persahabatan dengan Ninja Cilik
Ninja Hattori menghadirkan kisah Kanzo Hattori, seorang ninja cilik yang datang ke kehidupan Kenichi Mitsuba. Hattori kemudian menjadi sahabat Kenichi sekaligus membantunya menghadapi berbagai persoalan.
Kemampuan ninja, mulai dari berlari cepat hingga menggunakan berbagai teknik penyamaran, menjadi bagian menarik dari serial ini. Kehadiran Shishimaru, anjing ninja yang menggemaskan, serta persaingan dengan Kemumaki turut memberikan warna komedi.
Cerita Ninja Hattori tidak selalu mengandalkan pertarungan besar. Banyak episodenya berpusat pada kehidupan sehari-hari Kenichi dan teman-temannya. Perpaduan aksi ninja dan humor inilah yang membuat petualangan Hattori terasa ringan untuk diikuti.
Baca Juga: Bayu Skak Cerita Pernah Digoblok-goblokin Raditya Dika Gara-gara Target Penonton Yowis Ben
4. Pokémon, Petualangan Ash dan Pikachu
Pokémon menawarkan pengalaman berbeda melalui petualangan Ash Ketchum bersama Pikachu. Ash bercita-cita menjadi Pokémon Master dan melakukan perjalanan untuk bertemu, melatih, serta bertarung menggunakan berbagai Pokémon.
Pikachu menjadi karakter yang paling ikonik berkat penampilannya yang khas dan hubungannya dengan Ash. Sepanjang perjalanan, keduanya menghadapi berbagai tantangan, bertemu teman baru, dan berhadapan dengan Tim Rocket yang kerap mengganggu mereka.
Daya tarik Pokémon tidak berhenti di layar televisi. Karakter-karakternya juga dikenal melalui permainan video, kartu koleksi, dan berbagai produk turunannya. Bagi sebagian anak yang tumbuh pada era 2000-an, mengenal nama dan bentuk Pokémon menjadi bagian tersendiri dari keseruan mengikuti serial ini.
5. Let's & Go!!, Kartun yang Identik dengan Demam Tamiya
Bagi anak-anak yang menyukai balapan, Let's & Go!! menjadi salah satu animasi yang meninggalkan kesan kuat. Serial Jepang ini mengikuti petualangan kakak beradik Retsu dan Go Seiba yang berlomba menggunakan mobil balap mini atau Mini 4WD.
Berbagai model mobil dengan desain khas menjadi daya tarik tersendiri. Namun, keseruan serial ini terasa semakin dekat dengan kehidupan nyata karena mobil mini yang digunakan karakternya juga memiliki versi mainan yang bisa dirakit dan dimainkan.
Baca Juga: Kenalan Sama Uut Bambang Sugeng, Ayah Luna Maya yang Punya Darah Bojonegoro
Di Indonesia, Tamiya identik dengan tren mobil balap mini yang populer di kalangan anak-anak. Mereka dapat merakit mobil, mengganti komponen, hingga mengadu kecepatan di lintasan. Karena itu, Let's & Go!! bukan hanya mengingatkan penonton pada cerita animasi, tetapi juga pada hobi yang pernah meramaikan masa kecil sebagian anak era 2000-an.
6. Dragon Ball, Jurus Ikonik yang Sulit Dilupakan
Dragon Ball mengikuti petualangan Son Goku, tokoh yang menjalani perjalanan panjang untuk menjadi semakin kuat. Ceritanya berkembang dari pencarian bola naga hingga pertarungan melawan musuh-musuh tangguh yang mengancam Bumi.
Dalam Dragon Ball Z, Goku dan para petarung lainnya menghadapi lawan dengan kekuatan yang semakin besar. Transformasi Super Saiyan dan jurus Kamehameha menjadi dua elemen yang paling melekat pada serial ini.
Bagi anak-anak yang menyukai aksi, pertarungan Dragon Ball menghadirkan ketegangan sekaligus rasa penasaran terhadap perkembangan kekuatan setiap karakter. Jurus-jurusnya pun mudah dikenali, bahkan oleh orang yang tidak mengikuti seluruh alur ceritanya.
Dragon Ball menjadi salah satu animasi yang membekas karena memiliki dunia cerita yang luas, karakter yang berkembang, dan pertarungan yang terus meningkat skalanya.
Baca Juga: 7 Film Jepang Ini Setidaknya Wajib Ditonton Sekali Seumur Hidup
7. SpongeBob SquarePants, Komedi Absurd dari Bikini Bottom
SpongeBob SquarePants memperkenalkan penonton pada kehidupan spons laut bernama SpongeBob yang tinggal di Bikini Bottom. Ia bekerja sebagai juru masak di Krusty Krab dan menjalani kesehariannya bersama sahabatnya, Patrick Star.
Ada pula Squidward yang sering merasa terganggu oleh tingkah keduanya, serta Tuan Krabs yang terkenal sangat menyukai uang. Interaksi antarkarakter tersebut menjadi sumber humor yang membuat serial ini memiliki ciri khas tersendiri.
Berbeda dari animasi yang mengandalkan alur petualangan panjang, SpongeBob banyak menghadirkan cerita pendek dengan kejadian tak terduga. Gaya komedinya yang absurd membuat sejumlah adegan dan ekspresi karakter tetap dikenali bahkan setelah penontonnya beranjak dewasa.
Serial ini juga menjadi contoh kartun yang dapat dinikmati kembali pada usia berbeda. Adegan yang dahulu terasa lucu saat masih anak-anak terkadang menghadirkan sudut pandang baru ketika ditonton setelah dewasa.
Baca Juga: Heeseung Nyatakan Hengkang dari ENHYPEN, Persiapkan Karir Baru Sebagai Solois
Kartun Masa Kecil yang Menyimpan Banyak Kenangan
Tujuh animasi tersebut menawarkan pengalaman yang berbeda. Doraemon dan Ninja Hattori menghadirkan petualangan, Crayon Shinchan dan SpongeBob mengandalkan humor, sedangkan Pokémon, Let's & Go!!, dan Dragon Ball menawarkan dunia yang mendorong penonton mengikuti perjalanan karakter favoritnya.
Pengalaman setiap anak tentu tidak sama. Ada yang paling mengingat petualangan Ash bersama Pikachu, ada pula yang lebih akrab dengan balapan Tamiya atau alat ajaib milik Doraemon.
Namun, kartun-kartun tersebut memiliki satu kesamaan: mereka pernah menjadi bagian dari hiburan masa kecil ketika televisi masih memegang peranan penting dalam keseharian banyak keluarga.
Kini, menonton ulang animasi lawas bisa menjadi cara sederhana untuk mengenang masa sekolah, teman bermain, dan berbagai kesenangan kecil yang pernah mengisi hari-hari.
Dari tujuh kartun tersebut, mana yang paling membekas dalam ingatanmu? (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari