RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Masyarakat sipil Bojonegoro tak tutup mata. Kekerasan, penindasan, perampasan ruang hidup yang terjadi di Papua berpotensi terjadi di Kota Migas ini.
Melalui nonton bareng (nobar) pemutaran film Pesta Babi banyak terungkap keresahan, dari mahasiswa, buruh, hingga ibu-ibu.
Dokumenter karya sutradara Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono ini merekam realita perjuangan masyarakat adat di selatan Papua berhadapan dengan proyek strategis nasional (PSN).
Mengatasnamakan "ketahanan pangan" dan "transisi energi", pemerintah pusat di Jakarta menjalankan proyek nasional berskala megabesar yang belum pernah ada dalam sejarah.
Film dokumenter investigatif hasil kolaborasi Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia ini membongkar siapa saja pengusaha besar yang dipilih penguasa untuk membabat 2,5 juta hektare hutan di Papua.
Baca Juga: Tak Sekadar Melucu, Stand-Up Comedy Bojonegoro Rambah Dunia Digital
Dalam film ini kita diajak untuk membaca ulang bagaimana relasi kuasa, bisnis, dan operasi keamanan di Papua.
Nobar dan diskusi diinisiasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro itupun diwarnai tangis dan pertanyaan kritis. Dihadiri sekitar 50 orang. Tak lupa, kaleng berjalan untuk donasi Papua juga dilakukan. Hasilnya terkumpul uang sebesar Rp 500 ribu.
"Saya dari Aceh tinggal di Jakarta main ke Bojonegoro, salah satunya untuk menonton film ini. Saya berpikir apa yang bikin orang Papua sabar. Ditindas, dirampas sampai 60 tahun lebih," ujar Inong, salah satu penonton.
Ia mengajak kita tidak meninggalkan orang Papua sendiri. Sementara, Nafidatul Himah pentonton lainnya menambahkan, nobar dan diskusi ini menjadi tempat kritis. "Karena ke depan ini bisa terus terjadi. Saya lihat Papua ini miris sekali," ucapnya sambil menyeka air mata.
Salah satu pemantik nobar dan diskusi, Nurika Manan menyatakan, dari diskusi Jumat (24/4) malam itu berarti masih ada harapan, kekhawatiran yang disampaikan lewat beragam pertanyaan. Artinya, tutur dia, selama masih ada pertanyaan, jawaban selalu bertambah, cara berpikir bergeser, bergerak maju, dan memperkuat ataupun diperkuat kawan.
"Salib merah berawal dari Suku Awyu. Bentuk protes, perlawanan, kepasrahan, dan doa," tuturnya.
Sementara, pemantik lainnya Wahyu Rizkiawan mengatakan, tidak bisa menjawab semua keresahan atau kapan berakhirnya penindasan. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menceritakannya dan terus bercerita.
"Seperti Dhandy yang menceritakannya. Yang bisa dilakukan ialah bercerita," ujar dia.
Anggota AJI Bojonegoro Bambang Yulianto menyampaikan, di rezim saat ini untuk bertahan hidup saja cukup sulit bagi kelompok minoritas. Film Pesta Babi jadi representasi dan wadah berjejaring dan bersolidaritas sesama rakyat. "Solusinya nobar Pesta Babi," ujar Eeng, sapaannya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana