RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setelah mengalami dugaan kebocoran data awal minggu ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memutuskan untuk menghentikan sementara penerapan dan proses klasifikasi Indonesian Game Rating System (IGRS) mulai Jumat (17/4). Selain itu, Komdigi juga melakukan investigasi atas dugaan kebocoran data tersebut.
Awalnya pada Senin (13/4), pengguna media sosial Reddit asal Indonesia dengan username Me_Finity menemukan kebocoran data tersebut saat menyusun laman alternatif dari situs resmi IGRS. Temuannya, banyak data berupa foto dan video demonstrasi yang disimpan dalam layanan Google Drive, tidak diamankan dengan layak, dan dapat diakses bebas oleh publik.
Akibatnya, berbagai penampakan video game calon rilis tahun ini langsung bocor secara signifikan, termasuk berbabagi rilis papan atas seperti ‘Echoes of Aincrad’ dan ‘007: First Light’. Bahkan dikabarkan perusahaan Bandai Namco selaku produser dan distributor ‘Echoes of Aincrad’ sempat menghubungi Komdigi untuk klarifikasi.
Saat ini celah tersebut telah ditutup, dan berbagai foto dan video demonstrasi yang bocor tidak dapat diakses secara umum lagi. Namun Komdigi menyatakan akan melakukan pendalaman lebih lanjut.
"Untuk menghindari asumsi-asumsi yang beredar di media sosial, saat ini kami terus menginvestigasi dan mengevaluasi IGRS secara menyeluruh baik dari sisi sistemnya, proses maupun pembuatan atau tata kelola dan hasilnya. Sambil menunggu semua proses investigasi dan evaluasi selesai, kami memutuskan untuk menunda sementara proses rating IGRS secara keseluruhan,” jelas Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kemkomdigi, Sonny Hendra Sudaryana sebagaimana dikutip dari Antara.
Selain insiden kebocoran tersebut, investigasi juga bakal meliputi masalah yang sebelumnya menimpa IGRS, yakni kesalahan fatal saat integrasi dengan layanan toko e-commerce Steam. Pada insiden yang terjadi awa April tersebut, banyak produk video game yang menerima klasifikasi yang keliru atau terbalik dari konten yang terkandung di dalam produk.
Terkait hal tersebut, Sonny juga menyampaikan bahwa selama proses investigasi, seluruh video game yang belum menerima klasifikasi IGRS tetap dapat dimainkan, termasuk berbagai rilis mendatang tahun ini. Klaim Sonny, benar memang bahwa IGRS memiliki klasifikasi IGRS RC (klasifikasi ditolak), namun pemblokiran game tidak dapat serta-merta dilakukan.
"Perlu diperhatikan bahwa tidak ada game yang diblokir. Dari awal pun tidak ada yang diblokir, karena pemblokiran itu mekanismenya berbeda, jadi tetap bisa main," ujar Sonny.
Sementara itu, Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI) Shafiq Husein mengingatkan bahwa evaluasi perlu dilakukan bersama pelaku industri dan berbagai pemangku kepentingan lain. Selain itu, Shafiq juga mengingatkan kembali bahwa IGRS seyogyanya bersifat sebagai rekomendasi, bukan pembatasan.
“Kami berharap industri game Indonesia bisa lebih maju lagi dengan adanya IGRS, bukan menjadi pembatasan. Dengan kejadian ini, kita membuka pintu komunikasi supaya sistem ini bisa berjalan dengan baik, dan memastikan bahwa regulasi yang dibuat juga berpihak terhadap para pelaku industri game Indonesia," ujar Shafiq. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana