RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Perasaan habis menonton film Ghost In The Cell itu campur aduk. Tapi, rasa bahagia lebih dominan. Rasa yang jarang didapatkan usai menonton film-film Joko Anwar sebelumnya. Selain bahagia, tentu ada rasa ngilu karena ada beberapa adegan gore maksimum.
Film Ghost In The Cell juga tergolong film dengan pace yang cepat. Namun, mudah 'dipahami'. Tidak banyak permainan semiotika rumit yang harus dipecahkan penonton. Alur cerita dari awal hingga akhir juga tidak maju mundur. Sepertinya, juga tidak ada easter egg dalam film besutan sutradara kelahiran 1976 tersebut.
Jadi, ibarat hidangan makanan, Ghost In The Cell itu makanan lezat yang mudah dinikmati. Penonton tidak perlu banyak berteori. Semuanya diceritakan secara gamblang terang benderang. Sehingga, layak ditonton bareng pasangan, keluarga, atau teman-teman bisa tertawa dan ngilu bersama.
Baca Juga: Review Film Jurassic World: Rebirth: Judulnya "Rebirth", Kok Malah "Repeat"?
Cerita yang diangkat pun relatable dengan kondisi negara saat ini. Sehingga, setiap celetukan atau keluhan yang menyenggol kondisi negara sudah pasti mengundang gelak tawa. Namun, bagi kalian yang menderita typophobia sangat tidak disarankan menonton film ini.
-------------------------- SPOILER ALERT ----------------------
Akting para aktor di film Ghost In The Cell tiada lawan. Kami bisa bilang istimewa. Pengembangan setiap karakter dan pembagian porsi cerita pada setiap karakter juga pas. Sehingga, penonton bisa memberikan simpati kepada setiap karakter di film.
Film yang menceritakan kelamnya kehidupan para napi di penjara tentu sudah banyak. Kejamnya sipir dibarengi sifat culas juga kerap diangkat pada film-film bertema penjara. Namun, yang membuat film ini berbeda, simpel saja, karena ada hantunya.
Tapi, bukan sekadar hantu gentayangan, melainkan hantu yang memburu koruptor. Ya, koruptor yang diburu hantu. Sebuah harapan setiap orang di belahan dunia mana pun yang ingin koruptor selayaknya mati dibunuh.
Namun, kenyataannya koruptor akan selalu dilindungi karena apapun bisa mereka beli dengan uang. Jadi, tak ayal kita punya khayalan para koruptor bisa dibunuh oleh hantu.
Karakter utama yakni Anggoro (Abimana) ini bisa diibaratkan juru selamat di dalam penjara. Dialah yang selalu melindungi napi-napi yang ditindas. Sebuah sifat mulia dari seorang napi yang masuk penjara akibat merampok rumah seorang mafia tanah.
Para di dalam penjara kerap kali terbagi beberapa kelompok. Kelompok Anggoro berisi Irfan (Dimas Danang), Pendi (Lukman Sardi), Six (Yoga Pratama), dan Wildan (Mike Lucock). Kemudian, bertambah satu anggota baru bernama Dimas (Endy Arfian).
Kondisi di penjara sebelum Dimas datang baik-baik saja. Kisah konflik antara kelompok Anggoro dengan kelompok lain yang diketuai Rendra (Yuhang Ho), seorang gembong narkoba. Salah satu anggota kelompok Rendra ialah Tokek (Aming) dan Bimo (Morgan Oey).
Baca Juga: Sinopsis Film Aksi Horor The Long Walk: ‘Jalan Sehat’ Tiada Akhir Pembawa Maut untuk Para Pemuda
Ketika napi baru bernama Dimas masuk penjara tersebut, kondisi semakin mencekam. Karena tokek mati dibunuh oleh hantu di kamar mandi. Dimas merupakan seorang jurnalis yang sedang menginvestigasi kasus pembalakan liar di hutan Kalimantan yang akan digunakan sebagai tambang nikel.
Suasana penjara makin mencekam, karena kematian Tokek sangat tidak wajar. Pihak lapas pun berusaha mencari pelaku pembunuhan tersebut. Para napi pun bertanya-tanya penyebab kematian Tokek. Karena kejadian aneh terjadi sejak Dimas datang, Anggoro pun menginterogasi Dimas.
Lalu, berkesimpulan bahwa Dimas ketempelan hantu hutan Kalimantan. Kesimpulan Anggoro diperkuat oleh penerawangan Six yang tiba-tiba indra keenamnya aktif. Six melihat arwah Tokek setelah mati menghampiri Dimas.
Korban kedua hantu tersebut ialah Anton (Tora Sudiro). Anton merupakan napi yang mengurus dapur dan membagikan makanan kepada napi. Six pun berasumsi sebelum kematian Tokek dan Anton, ia melihat aura pada kedua korban itu berwarna merah darah.
Sedangkan, orang-orang di sekitar Six warnanya berbeda-beda warna auranya. Menurutnya, aura warna merah itu menunjukkan orang tersebut beraura negatif. Sehingga, Six menilai hantu itu membunuh orang yang beraura negatif.
Baca Juga: Sinopsis Film Horor The Exit 8: Hayo, Keluar Stasiun dan Menghindar dari Anomali Lewat Mana?
Berdasar kemampuan Six melihat warna aura seseorang, Six bersama teman-temannya berusaha agar tidak beraura negatif. Korban selanjutnya ialah Novilham (Magistus Miftah), seorang napi yang mengajarkan tari di dalam penjara. Ia stres karena sanggar tarinya akan ditutup.
Atas kesadaran pola hantu membunuh orang di dalam penjara, kelompok Anggoro berhasil membunuh seorang sipir bengis bernama Jefry (Bront Palarae) yang merupakan kaki tangan Kalapas. Anggoro memancing emosi Jefry hingga beraura negatif dan alhasil mati dibunuh hantu.
Kondisi tersebut membuat Anggoro dkk semakin cemas. Karena hantu itu masih terus memburu orang-orang beraura negatif. Anggoro pun berasumsi hantu itu sebenarnya punya tujuan, sehingga apabila korban incarannya belum mati, hantu itu akan tersebut bergentayangan.
Dimas pun berasumsi hantu itu membunuh orang beraura negatif yang berada di dekatnya saja, tepatnya di Blok C lapas tersebut. Jadi, mereka harus mencari siapa korban yang sebenarnya diincar oleh hantu tersebut.
Baca Juga: Sinopsis Drama Korea Confidence Queen, Aksi Park Min-young yang Beda dari Biasanya
Tak lama kemudian, ada seorang sipir pengganti Jefry yaitu Donald (Haydar Salishz) memberikan informasi bahwa ada napi koruptor di Blok K yang memiliki tambang nikel di Kalimantan. Sehingga, tanpa pikir panjang, kelompok Anggoro ditemani Donald pergi ke Blok K untuk melancarkan misi hantu itu membunuh seorang koruptor.
Mereka tidak sampai bertemu langsung dengan sang koruptor yang bernama Prakasa Kitabuming (Arswendy Bening Swara). Hanya bermodal HP untuk menelepon Prakasa. Irfan yang merupakan penipu ulung itu menelepon Prakasa agar emosi sehingga beraura negatif.
Segala cara Irfan tempuh, hingga akhirnya Prakasa tersulut emosinya dan mati dieksekusi hantu tersebut. Selanjutnya, Six melihat aura Dimas sudah netral yang berarti hantu itu sudah tidak menempel lagi di tubuh Dimas.
Keunikan hantu ini ialah setiap mayat korbannya ditata sedemikian rupa seperti layaknya patung di dalam galeri. Jadi. jiwa artsy hantu Kalimantan ini lumayan tinggi. Meskipun rasa mengerikan melihat mayat yang dijadikan mahakarya itu tentu sulit untuk dilupakan. Sehingga melihatnya harus dari sudut pandang artistik.
Film ini tidak ada plot-twist atau menentang status-quo. Semuanya dikisahkan gamblang seperti mitos-mitos atau takhayul yang hidup di tengah masyarakat. Sosok 'hantu Kalimantan' itu sering kita dengar. Lalu, kepercayaan terhadap 'penunggu hutan Kalimantan' pun kerap kita dengar kisah-kisahnya.
Namun, ketika melihat koruptor mati dicabik-cabik oleh 'penunggu hutan Kalimantan' tentu sangat memuaskan. Meski hanya film, kemarahan kita terwakili. Walaupun hal sangat tidak mungkin bisa terjadi. Para koruptor akan tetap hidup enak dan sejahtera di negara yang tumpul penegakan hukumnya. (bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko