RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bulan April 2026 bakal dibuka dengan fenomena alam unik yang mampir ke langit masyarakat Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa fenomena Pink Moon bakal mampir ke Indonesia pada Rabu malam (1/4), mulai maghrib hingga subuh.
Menurut salah satu Profesor Astronomi BRIN Thomas Jalaludin, fenomena Pink Moon merupakan bulan purnama pertama di bulan April, yang secara tradisional menandai awal musim semi. Kontras dengan namanya, saat Pink Moon terjadi, bulan tidak berwarna pink atau merah muda, melainkan kuning terang seperti bulan purnama pada umumnya.
“Warnanya bukan pink, sama dengan purnama umumnya, putih kekuningan. Itu hanya penamaan orang Amerika Serikat yang kemudian digunakan di media,” jelas Thomas pada Selasa (31/3) sebagaimana dikutip dari Antara dan Jawa Pos.
Lalu kenapa dinamakan Pink Moon kalau bulan tidak berwarna pink? Sebagaimana disebut oleh Thomas, masyarakat suku Indian di Amerika Serikat pada zaman dahulu menandai musim tanam dengan penampakan bulandan lingkungan sekitar saat pergantian musim. Pada awal musim semi, bunga Phlox subulata atau lumut merah mulai bermekaran dan menutupi tanah, sehingga fenomena ini dinamakan Pink Moon.
Baca Juga: BMKG Ramal Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Berpotensi Muncul Fenomena El Nino
Thomas menambahkan, fenomena Pink Moon dapat diamati mulai matahari terbenam pada waktu maghrib, hingga pada subuh WIB. Serupa dengan fenomena antariksa seperi gerhana bulan, Pink Moon dapat dilihat secara kasat mata selama langit cerah dan tidak terpengaruh polusi cahaya.
"Purnama dapat diamati mulai maghrib sampai menjelang matahari terbit. Dapat diamati tanpa alat atau dengan teleskop plus kamera,” ujar Thomas.
Selain itu, Thomas menjamin fenomena ini tidak berbahaya untuk masyarakat umum. Karena sebagaimana telah disebut, pada hakikatnya bulan ini hanya merupakan purnama biasa yang menandai pergantian musim.
“Tidak ada dampak negatifnya. Dampak secara umum sama dengan purnama lainnya, yaitu peningkatan pasang air laut karena Bulan dan Matahari hampir segaris dengan Bumi,” papar Thomas.
Thomas sendiri menyarankan untuk mengamati Pink Moon saat maghrib tiba. Pada momen ini, bulan masih berada di posisi rendah dekat cakrawala, sehingga bulan nampak lebih besar dan lebih terang. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana