RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kepergian aktor senior Epy Kusnandar pada Rabu (3/12) bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga menutup perjalanan panjang seorang seniman yang menjalani hidupnya seolah waktu adalah hadiah tambahan.
Sosok yang dikenal luas sebagai Kang Mus dalam serial Preman Pensiun itu wafat pada usia 61 tahun, setelah bertahun-tahun hidup melampaui prediksi dokter yang pernah mengatakan usianya tinggal empat bulan pada 2010.
Selama lima belas tahun terakhir, Epy melanjutkan hidup dengan kesadaran penuh bahwa batas itu bisa datang kapan saja. Namun alih-alih surut, ia menjadikan setiap kesempatan sebagai ruang untuk bermain peran, membangun karakter, dan menorehkan jejak baru di dunia seni.
Dari panggung teater, layar kaca, hingga bioskop, energinya seolah tidak pernah mengecil meski kondisi kesehatannya naik turun.
Kini, setelah perjalanan panjang itu mencapai akhir, Epy meninggalkan warisan besar yang lahir dari keyakinan bahwa hidup yang dipinjam harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Jejak Panjang di Dunia Seni Epy Kusnandar
Lahir di Garut pada 1 Mei 1964, Epy tumbuh sebagai anak seni yang sudah akrab dengan panggung teater sejak SMA. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Institut Kesenian Jakarta pada 1989, sebelum akhirnya memulai debut di layar kaca lewat serial 1 Kakak 7 Ponakan (1996).
Dari titik itu, kariernya melaju pesat. Ia hadir dalam sejumlah sinetron populer seperti Bajaj Bajuri, Suami-Suami Takut Istri, Para Pencari Tuhan, hingga Preman Pensiun yang membuat nama Muslihat—atau Kang Mus—melekat kuat di mata publik.
Di dunia film, ia memulai langkahnya melalui Petualangan Sherina (2000), kemudian tampil dalam berbagai judul penting termasuk Get Married (2007) dan Selepas Tahlil (2025). Bahkan, beberapa film yang ia bintangi dijadwalkan tayang setelah kepergiannya.
Selain berakting, Epy dikenal sebagai pelatih akting yang terlibat dalam beberapa produksi, serta sempat merilis karya musik bersama sang istri pada 2013. Dua penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) yang ia raih menjadi penanda bahwa kiprahnya di dunia seni tidak hanya produktif, tetapi juga diakui secara luas.
Akhir dari Hidup yang Terasa Seperti Hadiah Tambahan
Selama bertahun-tahun, hidup Epy berjalan dalam kesadaran bahwa dirinya pernah diberi batas waktu. Namun bukan ketakutan yang mendominasi, melainkan semangat untuk tetap hadir dalam setiap kesempatan berkarya. Ia menggunakan hidupnya yang “dipanjangkan” itu dengan cara paling bermakna: menghibur, membangun karakter, dan memperkaya dunia seni peran Indonesia.
Kepergiannya mengakhiri sebuah perjalanan yang—jika mengikuti prediksi dokter—seharusnya berakhir 15 tahun lebih awal. Tetapi Epy Kusnandar membuktikan bahwa manusia bisa menggunakan waktu tambahan itu untuk menciptakan karya, kesan, dan kenangan yang abadi.
Selamat jalan, Kang Mus. Terima kasih atas karya, ketabahan, dan keberanianmu menjalani hidup.
(kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari