Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Film Abadi Nan Jaya Picu Perdebatan Panjang di Dunia Maya: Lambat, Logis, atau Justru Realistis?

Hakam Alghivari • Selasa, 4 November 2025 | 22:39 WIB

 

Film Abadi Nan Jaya jadi perdebatan netizen di kolom komentar sang sutradara, Kimo Stamboel.
Film Abadi Nan Jaya jadi perdebatan netizen di kolom komentar sang sutradara, Kimo Stamboel.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Film Abadi Nan Jaya masih menjadi topik panas sepekan terakhir. Setelah mencatat prestasi sebagai film non-Inggris paling banyak ditonton di Netflix pada akhir Oktober 2025, karya Kimo Stamboel itu kini memancing perdebatan di media sosial. Menariknya, diskusi itu bukan tentang efek visual atau pencapaian teknis, melainkan tentang cara film ini membangun ketegangan dan logika ceritanya.

Melalui unggahan sang sutradara di Instagram, ratusan komentar bermunculan. Di sana, sejumlah penonton memberikan kritik terbuka terhadap jalan cerita. Akun bil*** menulis, “Ekspektasiku ketinggian. Sudut pandang ceritanya terlalu sempit, latarnya itu-itu saja, dan alurnya terlalu lambat.” Ia menilai film berdurasi lebih dari satu setengah jam itu seolah berputar di lokasi yang sama tanpa perkembangan berarti. “Terlalu banyak akting reaksi yang berlebihan dan menghabiskan durasi,” tulisnya lagi, meski ia tetap memuji aspek tata rias dan akting.

Komentar itu mendapat banyak tanggapan. Ada yang sepakat, tapi tak sedikit pula yang justru membela. Akun ghi*** misalnya, menilai pendekatan film ini tidak bisa diukur dengan ekspektasi film zombie pada umumnya. “Untuk POV ground zero masuk akal. Ceritanya kan tentang asal mula wabah. Wajar kalau karakter-karakternya bingung dan tidak langsung bertindak rasional,” ujarnya. Ia menambahkan, karakter dalam film tersebut juga bukan sosok aktif di media sosial, sehingga ide untuk ‘memviralkan’ kejadian itu tidak masuk akal di konteks cerita.

Beberapa warganet lain juga membandingkan Abadi Nan Jaya dengan film-film zombie populer asal Korea Selatan seperti Train to Busan. Akun lan*** menulis bahwa kepanikan para pemeran justru terasa alami. “Kayak first time aja ngeliat zombie, pasti bengong koplak. Train to Busan juga begitu kalau diperhatiin,” tulisnya. Ia menganggap adegan yang lambat adalah bagian dari gaya bertutur yang berusaha menekankan kepanikan awal, bukan kelemahan naskah.

Namun, di sisi lain, ada penonton yang menilai film ini terlalu repetitif. Akun wht*** menyebut banyak adegan berjalan dengan pola serupa. “Setiap ketemu zombie, pemerannya malah bengong, nunggu zombie deket baru lari. Itu template dari awal sampai akhir,” tulisnya. Kritik ini menggambarkan bahwa sebagian penonton mengharapkan intensitas dan aksi yang lebih dinamis seperti film-film barat.

Menariknya, sebagian besar diskusi berlangsung tanpa nada saling menjatuhkan. Beberapa komentar bahkan berkembang menjadi analisis mini tentang naskah dan karakterisasi. Salah satu pengguna menilai film ini sengaja mengambil ritme lambat untuk membangun ketegangan psikologis, bukan ketegangan fisik. Menurutnya, penonton yang terbiasa dengan film zombie cepat dan penuh aksi mungkin kesulitan menyesuaikan diri dengan gaya slow-burn horror yang dipilih Stamboel.

Dari perdebatan ini tampak satu hal penting: penonton Indonesia kini semakin vokal dan terlibat dalam membedah film lokal. Mereka tidak lagi berhenti pada penilaian “bagus atau jelek”, tetapi mulai mengupas detail seperti motivasi karakter, tata waktu, bahkan relevansi sosial di dalam cerita. Ini menjadi cermin bahwa audiens lokal sudah mulai memandang film Indonesia dengan kacamata yang lebih kritis.

Dalam konteks industri, reaksi semacam ini juga menjadi tanda kemajuan. Ketika film lokal bisa menembus daftar global Netflix dan sekaligus memicu diskusi panjang, itu menunjukkan dua keberhasilan sekaligus: keberhasilan distribusi dan keberhasilan menciptakan percakapan. Abadi Nan Jaya mungkin tidak sempurna di mata semua penonton, tetapi ia berhasil membuat banyak orang peduli dan berbicara.

Bagi sebagian kritikus, film ini menandai babak baru bagi sinema horor Indonesia yang berani keluar dari formula “hantu tradisional” menuju tema survival yang lebih universal. Namun, dalam perdebatan itu, juga muncul pelajaran: bahwa penonton Indonesia kini menuntut keseimbangan antara atmosfer lokal dan logika modern. Ketika zombie hadir di tanah sendiri, wajar bila publik menuntut realisme yang dekat dengan keseharian.

Pada akhirnya, pro dan kontra yang muncul di kolom komentar hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang Abadi Nan Jaya. Film ini mungkin dibicarakan karena ceritanya yang lambat, tapi justru di situlah letak kekuatannya, ia membuat penonton berhenti, menunggu, dan merenung. Dalam era tontonan serba cepat, mungkin justru film yang memaksa kita melambatlah yang paling meninggalkan jejak. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#Abadi Nan Jaya #dunia maya #netizen #perdebatan #film