RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Industri film Indonesia kembali menghadirkan kejutan lewat Tukar Takdir, film garapan Mouly Surya yang akan tayang mulai 2 Oktober 2025 mendatang. Film ini merupakan hasil kolaborasi tiga rumah produksi besar di Indonesia. Yakni, Starvision, Cinesurya, dan Legacy Pictures.
Mengusung drama petaka pesawat, film ini menawarkan pengalaman sinema yang jarang dieksplorasi sineas Tanah Air, sekaligus membuka ruang baru bagi ragam genre di layar lebar.
Diadaptasi dari novel laris karya Valiant Budi, Tukar Takdir menggabungkan ketegangan investigasi jatuhnya pesawat dengan drama emosional para penyintas dan keluarga korban. Produser utama dari Starvision, Chand Parwez Servia menekankan kebaruan ini sebagai langkah penting untuk industri film dalam negeri.
“Ini adalah genre yang belum pernah dieksplorasi oleh sineas kita, dan akan menjadi sajian yang fresh dan baru bagi perfilman Indonesia,” ujarnya dikutip dari press release.
Sementara itu, sang sutradara Mouly Surya, yang sebelumnya dikenal lewat Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, mengaku tertarik dengan kisah air crash investigation. Terlebih dirinya dapat mengeksplorasi sesuatu yang belum pernah dia gali selama ini.
“Melalui film Tukar Takdir, saya mengeksplorasi bentuk yang belum pernah saya jelajahi sebelumnya tentang bagaimana sebuah petaka pesawat ditampilkan di depan layar,” katanya. Dengan riset mendalam, ia memadukan aspek teknis kecelakaan pesawat dengan drama emosional yang kental.
Selain itu, produser dari Cinesurya Rama Adi menegaskan, kualitas teknis menjadi perhatian utama dalam proyek ini. Hal itu sebagai elemen penting untuk mengajak audiens menyelami dan merasakan secara langsung atmosfer dalam film.
“Kami menampilkan visual semeyakinkan mungkin untuk membangun nuansa yang chaotic, dan membawa penonton ikut merasakan petaka di dalam pesawat… sekaligus nuansa melankolis untuk perjalanan penyembuhan para karakter,” jelasnya.
Tak main-main, film Tukar Takdir ini diperkuat deretan aktor ternama seperti Nicholas Saputra, Marsha Timothy, dan Adhisty Zara, yang masing-masing memerankan karakter dengan luka emosional mendalam akibat tragedi pesawat Jakarta Airways 79. Kehadiran mereka menambah daya tarik dan kualitas akting yang diharapkan mampu menyentuh emosi penonton.
Bagi penonton Indonesia, Tukar Takdir bukan sekadar tontonan. Ia menjadi simbol keberanian sineas lokal untuk keluar dari pakem genre populer seperti horor dan komedi, sekaligus menegaskan bahwa perfilman nasional punya kapasitas menampilkan karya bertema global dengan kualitas produksi mumpuni.
Dengan kombinasi antara thriller investigasi, drama emosional, dan genre baru yang belum pernah banyak disentuh, Tukar Takdir diprediksi akan menjadi salah satu film paling menarik untuk disaksikan tahun ini. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari