RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Salah satu tren viral di jagad media sosial Indonesia saat ini mulai memunculkan masalah baru. Tren menciptakan foto bergaya vintage atau jadul ala jepretan kamera Polaroid menggunakan kecerdasan buatan (AI) tersebut menyeret beberapa penggawa Timnas Indonesia, terutama mereka yang sudah memiliki pasangan sendiri di dunia nyata.
Sejauh ini tercatat Rizky Ridho, Justin Hubner dan Sandy Walsh menyatakan kejengahan mereka terhadap tren tersebut, karena rupa mereka sering dijadikan teman ‘berfoto’ oleh penggemar mereka. Ketiganya sama-sama menyampaikan keluhan mereka di media sosial, menyusul banyaknya penggemar yang men-tag mereka di unggahan editan AI tersebut.
"Teman-teman minta tolong lebih sopan lagi ya, tidak perlu edit yang kayak gini," seru Rizky melalui media sosial pribadinya. Sebagai pengingat, Rizky baru saja melepas status lajang Juni lalu, sehingga tentu editan dirinya bersama perempuan lain sangat beresiko.
Sandy Walsh malah lebih tegas lagi dalam memberikan peringatan. Penggawa Buriram United di tingkat klub tersebut tidak segan menutup diri jika para penggemar tidak mengindahkan peringatannya.
“Saya dengan baik-baik meminta semuanya agar berhenti membuat foto AI dengan saya tanpa izin, karena dapat menimbulkan kesalahpahaman kedepannya. Kalau masih ada yang membuat, saya tidak ragu-ragu memblok akun yang membuat foto karena saya tidak terima,” ujarnya juga di media sosial milknya.
Meskipun dengan nada setengah bercanda, Justin Hubner juga tidak memilih diam untuk menanggapi tren tersebut. “Bisa nggak kita berhenti membuat tren yang menampilkan saya berciuman dengan perempuan lain? Karena saya cuma ingin berciuman dengan Jen (Jennifer Coppen, kekasih Justin),” ujar pemain yang baru bergabung dengan Fortuna Sittard tersebut.
Tanggapan para pemain timnas menjadi pengingat bahwa selain batasan teknologi, ada juga batasan moral yang perlu dipertimbangkan saat menggunakan kecerdasan buatan atau AI, meskipun hanya untuk sekedar hiburan pribadi. Tentu kita juga tidak ingin rupa kita disalahgunakan untuk keperluan yang tidak baik melalui data yang dapat digali oleh AI. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana