RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Musik klasik dan pertunjukan orkestra memengaruhi pendengarnya tak hanya lewat melodi yang memanjakan telinga, melainkan juga meresapi jiwa. Berdasarkan berbagai penelitian psikologi dan musik, minat yang mendalam terhadap genre ini terhubung dengan karakter kepribadian yang khas dan memotret lapisan batin yang penuh penghayatan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal sains kognitif milik Universitas Teknologi Austin di Texas, AS mengungkap bahwa orang yang menyukai klasik berada dalam kategori kompleks dan reflektif. Mereka cenderung imajinatif, menghargai keindahan estetika, memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan, dan sering kali berpandangan progresif dari segi sosial dan politik.
Selain itu mereka yang doyan musik yang kompleks dan dinamis seperti klasik, jazz, atau opera dinilai lebih terbuka dengan pengalaman baru. Para penggemar musik tersebut juga dipandang memiliki kemampuan analitik yang berkembang baik.
Dalam kehidupan sosial, para penggemar musik klasik cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi, namun sebaliknya juga lebih nyaman dalam kesendirian, dan tidak terlalu membutuhkan perhatian sosial. Menariknya meskipun memiliki karakter musik yang sangat berbeda dan terbalik, penelitian yang dilakukan oleh Universitas Curtin juga menunjukkan bahwa penikmat musik klasik dan heavy metal sama-sama memiliki karakteristik kreatif dan tenteram.
Selain itu banyak pula yang menjadikan musik klasik sebagai media untuk refleksi diri. Menurut Stefan Koelsch, salah satu psikolog yang juga menggeluti genre musik ini, respons emosional terhadap struktur musik klasik memicu aktivitas di area otak yang memproses bahasa dan disonansi emosional, memperkuat hubungan antara musik dan pemrosesan batin.
Baca Juga: Kenapa Generasi Milenial & Gen Z Rentan Burnout? Ini Penjelasan Psikologi
Karena itu pula, musik klasik juga dinilai baik untuk perkembangan anak, bahkan jika anak tersebut tidak diarahkan untuk belajar bermusik. Bahkan banyak yang menyarankan agar bayi diperdengarkan dengan musik klasik sejak dalam kandungan.
Bagi mereka yang hanya mendengar musik klasik, paparan awal terhadap musik klasik berkorelasi dengan perkembangan kemampuan bahasa yang lebih baik. Sementara untuk mereka yang menggeluti musik klasik, latihan instrumen musik klasik diyakini meningkatkan disiplin dan ketekunan.
Tidak hanya pada anak kecil, musik klasik juga diyakini membantu kesehatan orang dewasa. Penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan musik klasik dan orkestra dapat membantu tidur nyenyak, serta menurunkan gejala stres dan cemas hingga 30 persen.
Sehingga musik klasik di era modern sejatinya tidak hanya sekedar hiburan bagi para penggemarnya. Musik ini tidak sekadar memuaskan indera, tetapi meresap ke dalam struktur emosi dan pemikiran yang mendalam. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana