Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Usai Dirujak Netizen, Cinepolis Batal Tayangkan Film Merah Putih: One For All

Hakam Alghivari • Jumat, 15 Agustus 2025 | 17:11 WIB
Cinepolis tarik diri tayangkan Merah Putih: One For All.
Cinepolis tarik diri tayangkan Merah Putih: One For All.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Jelang rilis serentak pada 14 Agustus 2025, film animasi Merah Putih: One for All harus kalah cepat oleh gelombang kritik yang melanda.

Pada hari yang sama, Cinepolis Indonesia mengambil keputusan mengejutkan, yakni membatalkan penayangan film tersebut di seluruh jaringannya.

Keputusan itu diumumkan melalui unggahan Instagram resmi mereka:

“Film #MerahPutih: One For All, yang sebelumnya dijadwalkan tayang untuk menyambut momen kemerdekaan, resmi tidak jadi ditayangkan di seluruh jaringan Cinépolis Indonesia. Terima kasih atas pengertiannya," tulis caption postingan tersebut pada Kamis (14/8). 

Unggahan dua bagian ini langsung mempertegas bahwa tak ada satu pun layar Cinépolis yang akan memutar film tersebut—meninggalkan tanda tanya bagi penonton yang sudah menanti.

Film Merah Putih: One for All ini bercerita tentang sekelompok anak dari berbagai budaya yang diberi misi menjaga bendera pusaka menjelang upacara 17 Agustus.

Narasi yang diniatkan membangkitkan semangat kebangsaan itu justru dicap sebagian warganet terlalu klise dan minim urgensi emosional.

Gelombang kritik memuncak sejak resmi dirilis. Sorotan paling tajam diarahkan pada kualitas animasi yang dinilai kaku, ekspresi karakter yang datar, dan latar yang terasa polos.

Beberapa pengguna media sosial juga menyoroti adanya elemen yang belum dirender sempurna, termasuk label tulisan asing yang masih tertinggal di dalam frame.

Tak berhenti di situ, muncul pula kontroversi terkait salah satu adegan gudang yang berisi senjata. Produser kemudian mengklarifikasi bahwa benda-benda tersebut hanyalah properti perayaan kemerdekaan, bukan senjata asli.

Anggaran & Tuduhan Transparansi

Estimasi biaya produksi film ini mencapai sekitar Rp 6,7 miliar. Angka itu memicu perdebatan, dengan banyak yang mempertanyakan apakah hasil akhirnya sepadan dengan besarnya dana.

Pihak produksi membantah bahwa film ini menggunakan dana pemerintah. Mereka menegaskan proyek ini digarap secara independen oleh Perfiki Kreasindo di bawah Yayasan Usmar Ismail, tanpa campur tangan pendanaan negara.

Jam Tayang Terbatas & Distribusi Alternatif

Meski Cinépolis membatalkan penayangan, film ini tetap hadir di beberapa jaringan bioskop lain.

Jaringan XXI menayangkannya secara terbatas di area Jabodetabek serta sejumlah kota besar seperti Bandung, Semarang, dan Surabaya. Sementara jaringan Sam’s Studio menghadirkannya di beberapa kota lain seperti Solo, Kediri, dan Klaten.

Meski kritik meluas, sebagian penonton tetap membeli tiket dan menonton pada hari perdana—walau jumlahnya tidak signifikan.

Mengapa Cinépolis Menarik Diri?

Pihak Cinépolis tidak memberikan alasan detail dalam pengumumannya. Namun, keputusan ini diambil di tengah memuncaknya kritik publik terkait kualitas dan urgensi film, sehingga dinilai sebagai langkah untuk menjaga standar tayangan mereka, terutama di minggu-minggu yang padat menjelang perayaan kemerdekaan.

Keputusan serupa bukan hal baru di industri film. Distribusi massal sering kali dibatalkan jika konten dianggap belum memenuhi ekspektasi teknis maupun komersial.

Kisah Merah Putih: One for All menjadi contoh bahwa di industri film, ambisi besar harus diimbangi kualitas teknis dan strategi distribusi yang matang.

Alih-alih dikenal karena pesan kebangsaannya, film ini justru lebih melekat di ingatan publik sebagai bahan perdebatan daring—mengingatkan para pelaku industri bahwa penonton masa kini semakin kritis terhadap setiap detail. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#netizen #batal tayang #polemik #Merah Putih All for One #cinepolis