RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pemerintah menyiapkan pola baru untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya dinamika geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global. Kementerian Keuangan mendorong sinergi tiga pilar, yakni APBN, Danantara, serta kebijakan fiskal dan moneter melalui KSSK.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan APBN tetap menjadi katalis pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat. Anggaran negara diarahkan untuk memenuhi kebutuhan publik sekaligus membiayai program prioritas pembangunan.
Baca Juga: Benarkah Penjaga Mercusuar di Prancis Digaji Rp18 Miliar Setahun? Ini Faktanya
“Terus kita dorong APBN supaya menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan publik,” ujar Suahasil dalam ANTARA Business Forum 2026 di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Sementara itu, Danantara Indonesia diposisikan sebagai katalis investasi di luar APBN yang mendorong investasi strategis bersama sektor swasta.
“Sinergi antara APBN dan Danantara adalah horizon baru pengelolaan ekonomi kita,” kata Suahasil.
Pilar ketiga adalah sinergi kebijakan fiskal dan moneter melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Menurut Suahasil, langkah tersebut diperlukan untuk mendukung sektor keuangan yang lebih inklusif, dalam, dan stabil.
Baca Juga: Ombudsman Tak Bisa Pastikan Ferdy Sambo Gunakan Kamar Mewah di Lapas Cibinong, Begini Kata Ditjenpas
Di tengah strategi tersebut, pemerintah juga mencatat sejumlah indikator ekonomi yang dinilai menunjukkan daya tahan. Hingga 14 September 2026, akumulasi aliran modal masuk melalui SBN dan SRBI mencapai Rp140,7 triliun.
Pemerintah juga memperkirakan nilai insentif perpajakan sepanjang 2026 mencapai Rp576 triliun atau sekitar 2,2 persen dari PDB. Insentif tersebut diarahkan untuk memperkuat konsumsi rumah tangga serta investasi di sektor strategis.
Kemenkeu juga memproyeksikan enam sektor sebagai mesin pertumbuhan ekonomi ke depan, yakni infrastruktur digital, hilirisasi sumber daya alam, manufaktur bernilai tambah tinggi, industri hulu strategis dan energi, ketahanan pangan, serta energi baru dan terbarukan. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari