GOR Utama Bojonegoro tampak gemerlap, Senin (24/8) malam. Ribuan penonton bersorak bersama band favorit, mulai Drizzly, 510, hingga For Revenge.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
LAMPU sorot menyala terang. Suara drum dan dentuman sound system menggema di halaman GOR Utama Bojonegoro malam itu.
Kerumunan anak muda perlahan memenuhi area pertunjukan. Beragam gaya berpakaian terlihat di antara lautan penonton. Sebagian mengenakan outfit serba hitam, lengkap dengan aksesori syal yang melingkar di leher atau dijadikan bandana. Sebagian lainnya tampil lebih nyentrik dengan kaus bergambar atau bertuliskan nama band kesayangan.
Ketika musik mulai dimainkan, suasana pun berubah. Halaman GOR Utama Bojonegoro bukan lagi sekadar ruang terbuka, melainkan menjelma menjadi panggung tempat anak muda menikmati musik, bertemu komunitas, sekaligus mengekspresikan diri.
Selama ini, Bumi Angling Dharma memang lebih lekat dengan beragam pertunjukan seni dan hiburan tradisional. Wayang, tayuban, hingga pertunjukan dangdut menjadi bagian dari geliat hiburan masyarakat.
Namun, belakangan wajah hiburan di Bojonegoro mulai beragam. Kota di ujung barat Jawa Timur tersebut mulai dilirik sebagai lokasi penyelenggaraan festival dan konser musik yang menghadirkan musisi dari tingkat lokal hingga nasional.
Salah satunya melalui All Out Festival 2026. Festival tersebut menghadirkan sejumlah musisi dan band dari berbagai daerah. Mulai dari line-up lokal seperti Burn Goblin dan Fly Music hingga musisi nasional seperti Drizzly, 510, 7T, serta For Revenge.
Baca Juga: All Out Festival 2026: Band Lokal hingga Nasional Guncang Bojonegoro
Perwakilan PT Sejagad Rahmanuka Indonesia, Niken Herlina, mengatakan festival tersebut tidak sekadar dirancang sebagai pertunjukan musik. Pihaknya ingin menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi penonton.
"Kami ingin tidak hanya menghadirkan konser musik, tetapi juga memberikan pengalaman yang berkesan bagi para pengunjung atau penonton," tuturnya.
Menurut Niken, Bojonegoro memiliki peluang untuk tidak lagi hanya menjadi penonton dalam perkembangan industri hiburan nasional. Sebaliknya, daerah ini dinilai dapat menjadi bagian dari ekosistem festival musik sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.
"Kami ingin menghadirkan pengalaman yang bermakna bagi pengunjung sekaligus menumbuhkan gerakan musik dan ekonomi kreatif melalui konsep pertunjukan yang kreatif," ungkapnya.
All Out Festival 2026 secara khusus menyasar generasi Z dan milenial. Konsep yang ditawarkan tidak berhenti pada pertunjukan musik. Komunitas dan pengalaman penonton menjadi bagian penting dari festival.
Pemilihan musisi yang tampil pun disesuaikan dengan selera pasar. Menurut Niken, selama ini hiburan di Bojonegoro cukup identik dengan pertunjukan dangdut dan banyak menyasar kalangan milenial.
Kali ini, pihak penyelenggara mencoba menawarkan warna berbeda.
"Setelah vakum sekitar satu tahun, kami mencari konsep comeback yang benar-benar meledak. Akhirnya diputuskan menghadirkan For Revenge dan musisi lainnya yang memang sedang diminati anak muda," jelasnya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Speaker untuk Mendengarkan Musik di Rumah, Suara Jernih dan Menggelegar
Antusiasme penonton malam itu menjadi gambaran bahwa pasar hiburan musik anak muda di Bojonegoro cukup besar.
Perwakilan FM Production sekaligus promotor, Fakhruddin Zamroni, mengatakan halaman GOR Utama Bojonegoro mampu menampung sekitar 8.000 penonton. Melihat respons masyarakat Bojonegoro dan daerah sekitarnya, dia menilai Bojonegoro memiliki potensi menjadi salah satu destinasi penyelenggaraan konser dan festival musik berskala nasional.
"Antusiasme yang luar biasa ini menunjukkan Bojonegoro memang layak menjadi destinasi konser atau festival musik nasional yang mampu memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi di sektor-sektor lainnya," katanya.
Di tengah riuhnya penonton, pengalaman berbeda dirasakan Adi Is. Penonton asal Bojonegoro tersebut mengaku tidak menyangka bisa menyaksikan For Revenge tampil langsung di kotanya.
Baginya, kehadiran band tersebut menjadi pengalaman yang berharga. Terlebih, penonton tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan dari kejauhan. Sebagian ikut larut dalam energi musik.
Penggemar Burn Goblin dan 510, misalnya, membentuk area khusus di tengah kerumunan. Mereka melompat, bergerak, dan saling berdesakan mengikuti irama musik. Aksi tersebut dikenal dengan istilah moshpit.
"Sekelas Bojonegoro mengundang For Revenge, menurutku keren sih. Cuma kalau saya pribadi kurang nyaman saat moshpit karena berdesakan banget bagi kita yang enggak ikut itu," katanya. (*/zim)
REZA
Editor : Bhagas Dani Purwoko