Kopi di Bojonegoro Relatif Stabil, Robusta Dampit Rp15 Ribu per Ons

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:48 WIB
Salah satu outlet penjual biji kopi hingga gilingan di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. (HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)
Salah satu outlet penjual biji kopi hingga gilingan di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. (HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Harga sejumlah jenis kopi di wilayah Bojonegoro masih relatif stabil. Kondisi tersebut terutama terlihat pada kopi jenis robusta yang hingga kini belum mengalami kenaikan harga. Sementara itu, harga arabika cenderung lebih fluktuatif dan dapat berubah mengikuti kondisi panen di daerah asal.

Susi, pemilik Toko Kopi Djadul di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, mengatakan harga kopi jenis robusta saat ini masih cukup stabil. Salah satu yang banyak digunakan di warung kopi sekitar adalah robusta Dampit yang berasal dari Jawa Timur.

Menurut Susi, harga biji kopi Jawa seperti Dampit yang belum melalui proses sangrai masih berada di bawah Rp100 ribu per kilogram. Di Outletnya harganya menyentuh Rp95.000 per Kilogram (kg).

Baca Juga: Menko PMK Pratikno Tekankan Pendidikan untuk Membangun Manusia Seutuhnya

“Kalau yang biji kopi jawa tidak sampai 100k perkg,” ujar Susi.

Selain Dampit, terdapat sejumlah jenis robusta lain yang juga beredar di pasaran, seperti kopi asal Jember hingga Temanggung. Harga berbagai jenis kopi tersebut relatif berada pada kisaran yang tidak jauh berbeda.

Untuk kopi robusta Dampit yang telah diolah, Susi menyebut harganya mencapai Rp15 ribu per ons. Harga tersebut sudah termasuk kopi yang telah disangrai dan digiling.

“Untuk yang robusta dampit, per ons Rp15 ribu, itu sudah diroasting dan digiling,” terangnya.

Baca Juga: Lika-Liku Usaha Warung Kopi di Bojonegoro, Harga Bahan Baku Naik

Perempuan kelahiran Palembang itu menjelaskan, perbedaan harga antara biji kopi mentah dan kopi yang telah diproses salah satunya dipengaruhi oleh perubahan berat setelah proses sangrai. Biji kopi mentah masih memiliki kandungan air, sedangkan setelah disangrai kadar airnya berkurang sehingga bobot kopi ikut menyusut.

Meski demikian, kondisi harga robusta saat ini belum menunjukkan kenaikan. Berbeda dengan robusta, harga kopi arabika disebut lebih mudah mengalami perubahan.

Fluktuasi tersebut salah satunya berkaitan dengan waktu panen di daerah asal kopi. Kondisi ini relatif berlaku pada kopi jenis robusta maupun arabika. Ketika masa panen terlambat atau bahkan gagal panen, pasokan dapat berpengaruh terhadap harga di tingkat pasar.

“Kalau telat panen dari daerah asal biasanya baru naik,” kata Susi.

Sementara itu, Abdul Mujib warga Kecamatan Kalitidu, salah seorang penikmat kopi, mengaku senang harga kopi belum mengalami kenaikan signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya kopi jadi salah satu hal penting bagi pekerja kreatif seperti dirinya. Terlebih bertemu dengan calon klien hingga bertemu rekan sesama pekerja kreatif.

Baca Juga: Pedagang Pasar Hewan Balen Anjlok, Transaksi Sapi Ikut Menurun

"Tentu senang. Kopi sendiri sudah menjadi konsumsi harian untuk mencari inspirasi," bebernya.

Menurut dia, harga yang tetap stabil membuat konsumen tidak terlalu khawatir harga minuman kopi di warung maupun kedai ikut meningkat. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
biji kopi harga bojonegoro Kopi