RADARBOJONEOGRO.JAWAPOS.COM - Program Pemkab bojonegoro tentang pengentasan kemiskinan selain gerakan beternak ayam petelur mandiri (gayatri), juga domba kesejahteraan.
Namun, keluarga penerima manfaat (KPM) domba rerata tidak mengeluhkan pakan, karena tidak tergantung dengan pakan pabrikan.
Sebaliknya, KPM Gayatri mengeluhkan meroketnya harga pakan. Sehingga, sebagian berinisiatif untuk menjual ayamnya dan dibelikan domba. Langkah itu, terpaksa diambil oleh sebagian KPM Gayatri di Kecamatan Dander dan Margomulyo. Untuk keluar dari kerugian merawat ayam gayatri.
Baca Juga: Beri Tambahan Gizi dan Pendapatan, Gayatri Kembali Disalurkan, Bupati Wahono Tekankan Keberlanjutan
"Pitik kulo ajeng kulo ijolne mendo angsal? (ayam mau saya tukar dengan kambing boleh, red)? Sampun mboten kiat tuku pakan (sudah tidak kuat beli pakan, red)," kata salah satu KPM di Kecamatan Margomulyo itu.
KPM yang mewanti-wanti namanya tidak ditulis itu menjelaskan, harga pakan ayam yang kian melambung, sebaliknya harga telur berangsur turun.
Terkini, mereka berpikir menukarkan ayam dengan domba. Karena melihat KPM domba kesejahteraan lebih tenang tanpa memikirkan pakan yang dari pabrikan.
KPM asal Kecamatan Margomulyo awalnya bertanya kepada wartawan Radar Bojonegoro, apakah bisa menukar ayam dengan kambing. Ia mengaku cukup kelimpungan. Bukan malah untung, seolah kian buntung.
Saat ini harga pakan tembus Rp 395 ribu per karung. Maksimal bisa memberi makan ayam sepuluh hari. Bahkan, keluh dia, tren harga telur kini sedang turun, di angka Rp 23 ribu per kilogram (kg).
Baca Juga: KPM Gayatri Kelimpungan: Harga Pakan Naik, Harga Telur Anjlok
"Harga pakan Rp 395 ribu, terus kalau bertelur hanya 1,5 kg. Harga telur Rp 23 ribu per kg," jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Elfia Nuraini belum memberi jawaban secara pasti saat dikonfirmasi terkait potensi skema penggantian jenis ternak tersebut. Termasuk apakah pemkab menggodok opsi lain.
Ia hanya menanyakan alamat KPM tersebut. Tujuannya agar dikunjungi. "Alamat di mana, biar dikunjungi teman-teman. Pakan beli berapa di sana," tanya dia.
Baca Juga: Komisi B DPRD Bojonegoro Sebut Subsidi Pakan Program Gayatri Solusi Jangka Pendek
Sebelumnya, Elfia mengatakan, kenaikan harga pakan seiring dengan dolar, sehingga dilakukan beberapa hal. Di antaranya mendorong KPM membuat pakan alternatif dari bahan lokal agar tidak 100 persen bergantung pakan pabrikan. Di antaranya dengan mencampur komposisi 50 persen jagung, 15 persen dedak, dan 35 persen konsentrat. (yna/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah