RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM- Model pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) semakin mudah ditemui pada aktivitas transaksi masyarakat Bojonegoro.
Tidak hanya di pusat perbelanjaan atau restoran besar, metode pembayaran berbasis pemindaian kode tersebut kini mulai digunakan oleh pedagang pasar hingga pedagang kaki lima.
Meski demikian, transaksi tunai masih menjadi pilihan utama sebagian masyarakat. Faktor kebiasaan dan kesiapan pengguna menjadi salah satu alasan uang fisik belum sepenuhnya tergantikan.
Store Manager Emado's Bojonegoro, Bima Andika Setiawan mengatakan, pelanggan kini memiliki lebih banyak pilihan metode pembayaran saat bertransaksi. Selain uang tunai, konsumen juga mulai memanfaatkan QRIS, mesin electronic data capture (EDC), voucher (digital), hingga aplikasi milik Emado's.
"QR sekitar 27 persen (pengguna, red) . Banyak juga yang pakai voucher, EDC, maupun aplikasi Emado's," ujar lelaki yang kerap disapa Bima.
Menurutnya, keberagaman metode pembayaran tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan kemudahan bagi pelanggan. Konsumen dapat memilih metode pembayaran sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan masing-masing.
Sementara itu, di berbagai kios, barcode juga hampir rata disediakan. Mokeri, penjual di Lapak Bu Ida, Pasar Wisata Bojonegoro mengatakan, pembayaran digital kini mulai banyak digunakan oleh pembeli.
Baca Juga: Hampir Setahun, Ruas Jalan Sambong–Ledok Baru Dapat Jatah Rp 500 Juta
"Sudah mulai banyak yang pakai. Tapi memang masih kebanyakan pakai cash," katanya.
Menurut Mokeri, QRIS biasanya lebih sering digunakan ketika nilai transaksi cukup besar. Pembelian dengan nominal kecil, sebagian pelanggan masih lebih nyaman menggunakan uang tunai.
"Kalau belanjanya banyak (nilai, red), biasanya pakai QRIS," ungkapnya.
Sementara itu, mahasiswi di Bojonegoro, Siti Juwita Ayu Widya Putri mengaku, pembayaran model scan barcode memberikan kemudahan karena transaksi dapat dilakukan hanya melalui telepon genggam.
Menurutnya, pembayaran digital lebih praktis karena tidak perlu membawa uang tunai atau kartu. Namun, keterbatasan akses internet masih menjadi kendala ketika ingin menggunakan layanan tersebut.
"Sebenarnya enak pakai QR, tinggal scan, lebih simpel, tidak perlu bawa dompet atau kartu. Tapi kendalanya kalau mau bayar kadang bingung karena tidak ada paket internet," ujarnya.
Putri menambahkan, penggunaan QRIS kini semakin luas karena banyak pedagang kecil yang mulai menyediakan layanan tersebut. Tidak hanya toko modern, pedagang kaki lima juga mulai menerima pembayaran digital.
Perkembangan pola transaksi masyarakat yang mulai beralih ke sistem pembayaran non tunai. Namun, berdasarkan pengalaman pelaku usaha dan konsumen, uang tunai masih memiliki peran penting karena dianggap lebih mudah digunakan tanpa bergantung pada koneksi internet.
Dengan semakin banyaknya pilihan metode pembayaran, pelaku usaha kini tidak hanya menyediakan layanan transaksi tunai, tetapi juga menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru konsumen yang mulai terbiasa menggunakan pembayaran digital. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari