RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Lonjakan harga perangkat yang mencapai Rp 800 ribu hingga Rp 2 juta membuat masyarakat menunda pembelian ponsel baru. Akibatnya, banyak pemilik gerai atau konter hanya mampu bertahan di tengah lesunya pasar.
Pengelola Azza Cell, Mohtadi, mengatakan permintaan smartphone baru terus menurun seiring kenaikan harga yang terjadi pada hampir semua merek. Menurutnya, kenaikan tersebut dipicu meningkatnya harga komponen akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Diperkirakan kenaikan harga masih akan terus terjadi," ujarnya.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Smartphone dengan Kamera Terbaik di Pertengahan Tahun 2026
Ia menjelaskan, lonjakan harga smartphone berkisar antara Rp 800 ribu hingga Rp 2 juta per unit. Kondisi itu membuat daya beli masyarakat melemah karena calon pembeli harus berpikir ulang sebelum mengganti ponsel.
Menurutnya, saat ini hanya smartphone di kelas harga paling terjangkau yang masih memiliki peminat. Bahkan, harga perangkat yang sebelumnya dijual sekitar Rp 1,2 juta kini telah naik menjadi sekitar Rp 1,85 juta.
"Yang paling murah sekarang sekitar Rp 1,85 juta. Padahal sebelumnya hanya Rp 1,2 juta," ungkapnya.
Mohtadi mengaku para pelaku usaha konter smartphone kini hanya berupaya mempertahankan usaha di tengah tingginya harga jual perangkat. Margin keuntungan pun semakin menipis karena penjualan turun drastis.
Di sisi lain, mahalnya harga smartphone baru membuat konsumen mulai beralih ke perangkat bekas. Namun, stok smartphone bekas yang masih layak pakai juga terbatas sehingga belum mampu mendongkrak penjualan secara signifikan.
"Kami sekarang hanya kuat-kuatan bertahan," pungkasnya. (irv)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah