RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Penjual kurungan atau sangkar burung/unggas di Kabupaten Bojonegoro masih mengandalkan pasokan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan pasar. Jombang dan Soko, Kabupaten Tuban, menjadi dua wilayah yang rutin memasok berbagai jenis kurungan ke kios milik Pak No, warga Desa/Kecamatan Dander.
Usaha tersebut telah digeluti Pak No sejak sekitar 2006. Selama hampir dua dekade, pria 66 tahun itu melayani pembeli dari Dander, Ngasem, hingga Bubulan yang mencari kurungan burung maupun kandang unggas yang berbahan dasar bambu dan kayu.
"Ambil barangnya dari Jombang, ada yang dari Soko Tuban, dan daerah luar Bojonegoro lain," ungkapnya.
Harga kurungan yang dijual bervariasi sesuai ukuran dan bahan pembuatnya. Untuk kurungan unggas ayam ukuran sedang, banderolnya berkisar puluhan ribu rupiah hingga sekitar Rp100 ribu. Namun, penyesuaian harga dilakukan ketika biaya kulakan dari pemasok mengalami kenaikan.
Selain itu, kios yang terletak di jalan raya Dander Temayang itu juga tersedia kandang ayam berbahan besi, lebih kuat, dan lebih kokoh. Produk itu menjadi yang paling mahal dibandingkan jenis kurungan lainnya, tetapi permintaannya relatif rendah.
"Harga paling mahal kandang ayam dari besi, tapi jarang yang cari," ungkap Pak No.
Sementara itu, sales kurungan asal Jombang yang menjadi pemasok di kios Pak No mengatakan, distribusi kurungan bergantung pada ketersediaan bahan baku kayu. Kayu, dalam keterangannya, berasal dari limbah pabrik sehingga pasokannya tidak selalu stabil.
"Ada kenaikan ketika bahan baku kayu sedikit telat, karena kayunya dari limbah pabrik," katanya yang enggan disebutkan namanya.
Dia menambahkan, selain kios Pak No, dirinya juga memasok di kios-kios penjual sangkar unggas lain di daerah Bojonegoro. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari